Rumah adat Bali bukan sekadar tempat tinggal setiap bagiannya dirancang berdasarkan filosofi Hindu Bali yang disebut Asta Kosala Kosali, sebuah panduan arsitektur tradisional yang mengatur tata letak, ukuran, hingga arah bangunan.
Hasilnya adalah kompleks hunian yang terdiri dari beberapa bangunan terpisah, masing-masing punya nama dan fungsi sendiri.

Kalau kamu pernah melewati desa-desa di Bali dan memperhatikan gerbang batu berukir di depan rumah warga, itulah salah satu bagian dari rumah tradisional Bali yang akan dibahas di sini.
Filosofi dasarnya berakar pada konsep Tri Hita Karana keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam sekitar.
Makanya setiap bangunan dalam rumah adat Bali punya posisi yang tidak sembarangan: ada zona sakral di timur laut, zona hunian di tengah, dan zona servis di selatan atau barat.
SatuSatu merekomendasikan kamu mengunjungi desa-desa adat Bali untuk melihat langsung bagaimana rumah tradisional ini masih dijaga hingga hari ini.
Angkul-Angkul
Angkul-angkul adalah pintu gerbang utama rumah adat Bali yang bentuknya menyerupai Candi Bentar dua bangunan sejajar yang dihubungkan oleh atap di bagian atas.
Inilah hal pertama yang kamu lihat saat mendekati sebuah rumah tradisional Bali.
Dulu atap penghubungnya terbuat dari rumput kering, tapi kini banyak yang sudah menggunakan genteng dengan ukiran khas Bali di dindingnya.
Ukuran angkul-angkul sengaja dibuat tidak terlalu besar ini bukan sekadar estetika, tapi juga berfungsi sebagai filter privasi antara penghuni dan tamu yang belum dikenal.
Aling-Aling
Tepat setelah melewati angkul-angkul, kamu akan menemukan dinding pembatas pendek yang disebut aling-aling. Tingginya sekitar 150 cm dan posisinya menghalangi pandangan langsung ke dalam halaman rumah.
Fungsinya bukan hanya soal privasi. Dalam kepercayaan Hindu Bali, aling-aling dipercaya mencegah energi negatif masuk ke dalam rumah karena roh jahat diyakini hanya bisa bergerak lurus.
Dengan adanya dinding ini, siapapun yang masuk harus berbelok dulu dan energi negatif tidak bisa mengikuti. Bagian ini juga sering disebut penyengker.
Sanggah atau Merajan
Sanggah adalah pura keluarga yang menjadi bagian paling sakral dalam kompleks rumah adat Bali. Letaknya selalu di sudut timur laut arah yang dianggap paling suci dalam kosmologi Bali karena menghadap Gunung Agung.
Di sinilah seluruh anggota keluarga berdoa setiap harinya, dan berbagai upacara keagamaan keluarga dilangsungkan.
Ukurannya bervariasi tergantung kemampuan pemilik rumah, tapi hampir tidak ada rumah tradisional Bali yang dibangun tanpa sanggah. Ini cerminan langsung dari konsep Parahyangan hubungan manusia dengan Tuhan.
Bale Manten
Bale manten adalah bangunan utama dalam rumah adat Bali yang berfungsi sebagai kamar tidur kepala keluarga atau anak perempuan yang belum menikah.
Letaknya di sisi utara kompleks, dan posisi lantainya biasanya lebih tinggi dari bangunan lain sebagai simbol status.
Bentuknya persegi panjang dengan bale-bale atau tempat duduk/tidur di sisi kiri dan kanan. Dalam rumah tradisional Bali, posisi tidur juga diatur kepala harus menghadap ke arah yang dianggap mulia, tidak boleh sembarangan.
Bale manten adalah contoh nyata bagaimana arsitektur Bali mengintegrasikan spiritualitas ke dalam kehidupan sehari-hari.
Bale Dauh
Bale dauh berfungsi sebagai ruang tamu sekaligus tempat tidur anak laki-laki remaja dalam keluarga. Letaknya di sisi barat kompleks, dengan lantai yang sedikit lebih rendah dari bale manten.
Yang menarik, nama bale dauh bisa berbeda-beda tergantung jumlah tiangnya: sakenem untuk enam tiang, sakutus untuk delapan tiang, dan sangasari untuk sembilan tiang.
Jumlah tiang bukan sekadar pilihan estetika ini bagian dari aturan dalam Asta Kosala Kosali yang menentukan fungsi dan peruntukan tiap bangunan.
Pawaregan
Pawaregen adalah dapur dalam rumah adat Bali. Posisinya biasanya di sisi selatan atau barat laut kompleks zona yang dianggap paling “rendah” secara hierarki spiritual, sehingga cocok untuk aktivitas memasak yang berkaitan dengan api dan bahan mentah.
Di dalam pawaregen terdapat area menyimpan peralatan masak dan area memasak itu sendiri. Ukurannya sedang tidak sebesar bale gede tapi tidak sekecil bangunan servis lainnya.
Di beberapa rumah tradisional yang masih asli, pawaregan masih menggunakan tungku kayu bakar dan lantai tanah.
Klumpu Jineng
Klumpu jineng adalah lumbung padi khas Bali bangunan panggung dengan atap dan dinding dari jerami kering yang berfungsi sebagai tempat menyimpan gabah dan hasil pertanian. Keberadaannya menandakan bahwa pemilik rumah adalah seorang petani.
Kini klumpu jineng sudah semakin jarang ditemukan karena banyak yang sudah dimodernisasi atau dihilangkan seiring perubahan mata pencaharian warga.
Kalau kamu ingin melihat klumpu jineng yang masih asli, Desa Penglipuran di Bangli dan Desa Tenganan di Karangasem adalah dua tempat terbaik untuk menemukannya dua desa adat yang masih menjaga tatanan rumah tradisional Bali dengan sangat ketat.
Jelajahi Bali Bersama SatuSatu
Arsitektur rumah adat Bali adalah bagian kecil dari kekayaan budaya pulau ini yang jauh lebih dalam dari yang terlihat di permukaan, dan SatuSatu hadir untuk membantu kamu menjelajahinya lebih jauh.
SatuSatu adalah platform travel Bali yang menyediakan aktivitas wisata, pengalaman budaya, dan transportasi dalam satu tempat yang bisa langsung dipesan melalui SatuSatu.com dengan berbagai metode pembayaran lokal seperti BCA, Mandiri, OVO, DANA, kartu kredit, dan lainnya.
Salah satu cara terbaik merasakan budaya Bali secara langsung adalah menyaksikan Kecak Fire Dance di Uluwatu pertunjukan tari api ikonik dengan latar tebing Uluwatu dan matahari terbenam yang mencerminkan kekayaan tradisi Hindu Bali, sama dalamnya dengan filosofi yang membangun setiap sudut rumah adat Bali.
Untuk kamu yang ingin membawa pengalaman Bali ke level berikutnya bersama keluarga, Bali Swing Experience menawarkan sensasi berayun di atas lembah hijau Ubud area yang dikelilingi desa-desa adat dengan arsitektur tradisional yang masih terjaga.
Pertanyaan tentang Rumah Adat Bali
Apa nama rumah adat Bali dan bagian-bagiannya?
Rumah adat Bali dibangun berdasarkan pedoman Asta Kosala Kosali dan umumnya terdiri dari angkul-angkul (gerbang), aling-aling (pembatas), sanggah atau merajan (pura keluarga), bale manten (kamar utama), bale dauh (ruang tamu), pawaregen (dapur), dan klumpu jineng (lumbung padi).
Apa filosofi rumah tradisional Bali?
Rumah adat Bali mengusung filosofi Tri Hita Karana, yaitu keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Tata letak bangunannya diatur berdasarkan prinsip Asta Kosala Kosali.
Di mana bisa melihat rumah adat Bali yang masih asli?
Kamu bisa mengunjungi Desa Penglipuran dan Desa Tenganan, dua desa adat yang masih mempertahankan arsitektur dan tata ruang rumah tradisional Bali hingga saat ini.