Baju adat Aceh dikenal dengan nama Ulee Balang, dan setiap bagiannya menyimpan makna. Gayanya memadukan budaya Melayu dan Islam, dengan sentuhan pengaruh Tionghoa yang terlihat di bentuk kerahnya.
Aceh dijuluki Serambi Mekkah, jadi busananya selalu menjaga kesopanan. Berikut 10 nama baju adat Aceh untuk pria dan wanita, lengkap dengan makna filosofisnya.
Ulee Balang
👤 Pemakai: keluarga kesultanan dan bangsawan, kini siapa saja
🧵 Ciri khas: set busana dengan warna cerah dan hiasan emas
✨ Makna: kebesaran dan kedudukan
Ulee Balang menjadi nama umum untuk pakaian adat Aceh. Dulu pakaian ini hanya dipakai keluarga kerajaan pada zaman Samudera Pasai. Pemegang jabatan ulee balang bergelar Teuku untuk pria dan Cut untuk wanita.
Ulee Balang terbagi menjadi Linto Baro untuk pria dan Daro Baro untuk wanita. Sekarang orang non-Aceh pun boleh memakainya.
Baca Juga: 10 Baju Adat Sunda untuk Pria dan Wanita serta Keunikannya
Linto Baro
👤 Pemakai: pria Aceh, terutama mempelai pria
🧵 Ciri khas: dominasi warna hitam dengan sulaman emas
✨ Makna: kebesaran, keberanian, dan martabat
Dalam bahasa Aceh, linto baro berarti pengantin pria. Satu setelnya terdiri atas baju, celana, sarung, penutup kepala, dan rencong.
Pria memakainya saat pernikahan, Meugang, Peusijuk, dan Tung Dara Baro. Acara adat dan hari besar juga menjadi momen pemakaiannya.
Baju Meukeusah
👤 Pemakai: pria Aceh
🧵 Ciri khas: atasan mirip beskap, hitam, bersulam emas di leher, dada, dan ujung lengan
✨ Makna: kebesaran seorang pria
Baju ini biasanya terbuat dari tenun sutra atau kapas. Pria Aceh sudah memakainya sejak zaman Samudra Pasai dan Perlak.
Motif sulamannya berupa bunga dan sulur, salah satunya pucok reubong atau tumpal. Motif itu bermakna kesuburan dan kebersamaan, dengan harapan pemakainya mendapat rezeki dan keturunan.
Celana Sileuweu
👤 Pemakai: pria, dan wanita dalam bentuk serupa
🧵 Ciri khas: celana katun hitam, melebar ke bawah, bersulam emas
✨ Makna: pelengkap kewibawaan busana pria
Orang juga menyebutnya celana cekak musang. Bagian bawahnya lebar dan dihiasi sulaman emas, mengikuti gaya baju Meukeusah.
Di atas celana, pria melilitkan sarung songket sampai sekitar 10 cm di atas lutut. Sarung ini punya sebutan lain, yaitu Ija Kroeng atau Ija Sangket.
Daro Baro
👤 Pemakai: wanita Aceh, terutama mempelai wanita
🧵 Ciri khas: baju kurung berwarna merah, ungu, kuning, atau hijau
✨ Makna: keanggunan yang tetap sopan
Daro Baro adalah padanan Linto Baro untuk wanita. Setelnya meliputi baju kurung, celana, penutup kepala, perhiasan, dan bros.
Sarung songketnya diikat dengan ikat pinggang perak atau emas bernama taloe ki leng patah sikureueng. Sarung ini juga menutup pinggul agar lekuk tubuh tidak terlihat.
Baju Kurung Aceh
👤 Pemakai: wanita Aceh
🧵 Ciri khas: tenun sutra bersulam emas, panjang sampai pinggul
✨ Makna: perpaduan budaya Melayu, Islam, dan Tionghoa
Kerahnya mirip pakaian wanita Tionghoa. Bentuknya yang longgar dan menutup tubuh sesuai nilai Islam.
Perhiasan melengkapi baju ini, misalnya keureusang, yaitu bros emas berbentuk hati. Ukurannya sekitar 10 x 7,5 cm dan bertatahkan intan dan berlian.
Meukeutop
👤 Pemakai: pria Aceh
🧵 Ciri khas: penutup kepala tenun bersulam, berhias tampoek emas atau perak
✨ Makna: kedamaian, kesultanan, ketegasan, dan keberanian
Meukeutop memakai empat warna sulaman. Hijau melambangkan kedamaian Islam, kuning melambangkan kesultanan, hitam ketegasan, dan merah keberanian.
Bagian depannya dibalut kain tenun bernama Ija Teungkulok dengan salah satu ujung mencuat ke atas. Bentuknya mengingatkan orang pada penutup kepala sultan Turki.
Patam Dhoe
👤 Pemakai: mempelai wanita Aceh
🧵 Ciri khas: mahkota berkaligrafi lafaz Allah dan Muhammad
✨ Makna: tanda sudah menikah dan menjaga aurat
Wanita Aceh mengenakan jilbab dulu, baru memasang mahkota ini. Kaligrafi di tengahnya dikelilingi bunga dan bulatan, dan orang menyebutnya Bungoh Kalimah.
Mahkota ini juga menandakan bahwa pemakainya sudah menikah. Dengan begitu, suaminya memikul tanggung jawab atas dirinya.
Aman Mayok
👤 Pemakai: pengantin pria suku Gayo
🧵 Ciri khas: baju putih, sarung, dan ponok sejenis keris
✨ Makna: gaya busana adat Aceh yang lebih tua
Suku Gayo di dataran tinggi Aceh punya busana adat sendiri. Pada Aman Mayok ada bulang pengkah, tempat menancapkan sunting.
Setelnya juga memuat gelang di lengan dan cincin. Gayanya berbeda dari Linto Baro karena warna dasarnya putih.
Ineun Mayok
👤 Pemakai: pengantin wanita suku Gayo
🧵 Ciri khas: baju, celana, sarung pawak, dan ikat pinggang ketawak
✨ Makna: keanggunan Islami dengan perhiasan lengkap
Pengaruh Islam membuat desainnya tertutup. Kepala dihias mahkota sunting, sedangkan leher dihias kalung tanggal.
Pemakainya juga memakai gelang dan cincin dalam banyak jenis. Selendang disilangkan dari bahu ke pinggang untuk melengkapi tampilan.
Baca Juga: 10 Nama Baju Adat Jawa Timur dan Keunikan Tradisinya
Jelajahi Bersama SatuSatu

Setelah mengenal busana Tanah Rencong, kamu mungkin ingin merasakan budaya Nusantara langsung. Kamu bisa cek pilihannya di SatuSatu.com tersedia pembayaran lokal seperti BCA, Mandiri, OVO, DANA, dan kartu kredit.
Untuk menikmati seni pertunjukan, coba Kecak Fire Dance Uluwatu. Pertunjukan malam ini cocok bagi kamu yang suka melihat tradisi tampil dalam kostum dan gerak yang sarat makna.
Kalau tertarik pada warisan kerajaan, kunjungi Tirta Gangga Water Palace. Tempat ini cocok untuk kamu yang penasaran dengan jejak kebangsawanan, seperti yang tercermin pada busana Ulee Balang. Cek jadwal dan syarat tiket di halaman produk sebelum memesan.
Pertanyaan tentang Baju Adat Aceh
Apa nama baju adat Aceh?
Baju adat Aceh dikenal dengan nama Ulee Balang. Pria mengenakan Linto Baro, sedangkan wanita memakai Daro Baro.
Apa makna warna hitam pada baju adat Aceh?
Warna hitam pada Linto Baro melambangkan kebesaran dan ketegasan. Warna ini juga terdapat pada Meukeutop, yang memadukan warna hijau, kuning, dan merah.
Apakah baju adat Aceh boleh dipakai orang non-Aceh?
Boleh. Meski dahulu identik dengan keluarga kesultanan, sekarang siapa saja bisa mengenakan baju adat Aceh untuk acara adat maupun kegiatan budaya.