Lompat ke konten
Home » 10 Jenis Pakaian Adat Papua dari Berbagai Suku

10 Jenis Pakaian Adat Papua dari Berbagai Suku

Pakaian adat Papua tidak hanya satu jenis. Tiap suku punya busana dengan bahan, bentuk, dan makna yang berbeda.

Tanah Papua kini terbagi menjadi enam provinsi, jadi keragaman busananya memang besar. 

Di SatuSatu, pengalaman budaya Nusantara selalu jadi topik favorit, dan artikel ini bisa jadi bekal awalmu. Nama dan detail pakaian bisa berbeda antarsuku dan antarsumber.

Koteka

Pakaian Adat Papua

📍 Asal: suku Dani, Lani, dan Yali di Pegunungan Tengah
🧵 Bahan: kulit labu air tua yang dikeringkan
🎉 Dipakai: upacara adat dan acara budaya

Koteka, atau holim, adalah penutup kemaluan pria berbentuk selongsong. Labu dibuang biji dan dagingnya, lalu dikeringkan sampai keras. Tiap suku punya sebutan sendiri, misalnya hilon, harim, atau bobbe.

Menurut sejumlah sumber, makin tinggi kedudukan pria secara adat, makin besar koteka yang dipakai. 

Penggunaannya sehari-hari memang makin jarang. Namun, Pemkab Jayawijaya pernah memakainya di acara resmi, seperti pelantikan anggota DPRK dan karnaval budaya.

Baca Juga: 7 Pakaian Adat Bali dan Maknanya yang Perlu Kamu Tahu

Rok Rumbai

📍 Asal: Papua Barat, pesisir, dan sebagian pegunungan tengah
🧵 Bahan: daun sagu kering, serat kayu, bulu burung, kerang
🎉 Dipakai: perayaan adat

Rok rumbai adalah bawahan berlapis dari serat alami. Cara memakainya mudah, cukup dililitkan ke pinggang lalu diikat dengan simpul.

Rok ini dikenal di kelompok Biak Numfor, Yapen, Sentani, dan Tobati. Biasanya perempuan yang memakainya, tapi pria juga boleh. Bedanya, pria tidak memakai atasan baju kurung. Warnanya umumnya cokelat tanah dan kuning keemasan.

Sali

📍 Asal: suku Dani, Lembah Baliem
🧵 Bahan: serat kulit kayu atau anyaman rumput rawa, warna cokelat
🎉 Dipakai: perempuan yang belum menikah

Sali berbentuk seperti rok dan menandai status pemakainya. Gadis Dani mengenakannya sampai menikah. Setelah itu, ia berganti ke yokal.

Pembeda status seperti ini membuat busana adat terasa lebih dari sekadar penutup tubuh. Kamu bisa melihat sali dan yokal dipakai di Festival Budaya Lembah Baliem.

Yokal

📍 Asal: suku Dani, Lembah Baliem
🧵 Bahan: untaian benang dari serat kulit kayu
🎉 Dipakai: perempuan yang sudah menikah

Yokal adalah rok untuk perempuan Dani yang sudah menikah. Bentuknya berupa untaian benang yang dibuat dari serat kulit kayu.

Sumber lain menyebut warnanya cokelat kemerahan. Yokal sering dilengkapi noken dan hiasan kepala. Pemakaiannya memang makin jarang di keseharian, tapi tetap muncul saat festival dan acara adat.

Pummi

📍 Asal: suku Asmat, Papua Selatan
🧵 Bahan: anyaman daun sagu
🎉 Dipakai: acara adat

Pummi adalah rok mini perempuan Asmat. Rumbainya dibiarkan terurai di sekeliling pinggul dan paha.

Perempuan Asmat juga memakai penutup dada dari daun sagu. Menurut sebuah catatan budaya, desain ini meniru kecantikan burung kasuari. Mereka melengkapinya dengan kalung dari biji pohon tisen. Jadi, bahan hutan dipakai untuk busana sekaligus perhiasan.

Mahkota Kasuari

📍 Asal: suku Asmat
🧵 Bahan: anyaman pucuk daun sagu, bulu kasuari atau kakatua putih
🎉 Dipakai: upacara dan tarian pria

Mahkota ini bukan pakaian utama, tapi bagian penting dari pakaian adat Papua versi Asmat. Bentuknya anyaman pucuk daun sagu yang diikatkan di kepala.

Kepala adalah bagian tubuh tertinggi, sehingga hiasan di atasnya dianggap kehormatan. Burung kasuari dan kakatua putih juga punya makna khusus bagi masyarakat Asmat.

Pakaian Suku Mee

📍 Asal: suku Mee, Pegunungan Tengah
🧵 Bahan: rumbai (mogee), penutup (yatoo), noken (agiya), baju (wadoyoma)
🎉 Dipakai: pesta adat

Pakaian perempuan Mee punya empat komponen dengan nama lokal. Misalnya, mogee untuk rumbai dan agiya untuk noken.

Satu set ini biasanya muncul di pesta adat yang diisi berbagai tarian. Pada pesta seperti itu, perkawinan adat juga sering berlangsung. Kamu jadi bisa melihat busana ini dalam konteks aslinya.

Kulit Kayu Khombouw

📍 Asal: suku Sentani, Kampung Asei, Danau Sentani
🧵 Bahan: kulit pohon khombouw, pewarna kapur, kulit kerang halus, arang, kunyit
🎉 Dipakai: dulu untuk busana, kini lebih dikenal sebagai lukisan

Khombouw, atau malo dalam bahasa Sentani, dulu jadi pakaian perempuan yang akan menikah. Kulit ini juga dipakai sebagai pembungkus bayi.

Sekarang khombouw lebih sering tampil sebagai lukisan dan suvenir. Motifnya sarat makna dan digambar dengan pewarna alami. Kamu bisa membelinya langsung di Kampung Asei. Festival Danau Sentani biasanya digelar tiap Juni.

Baju Kain Rumput

📍 Asal: Sorong Selatan
🧵 Bahan: pucuk daun sagu kering
🎉 Dipakai: pria dan perempuan

Pembuatannya cukup rumit. Daun sagu harus diambil saat air laut pasang, lalu dikeringkan dan direndam. Setelah itu, daun dianyam dengan cara tradisional.

Rumput yang sudah kering dipilin menjadi tali pinggang. Pakaian ini sudah mendapat sentuhan modern, jadi tampilannya lebih fleksibel.

Noken

📍 Asal: seluruh Tanah Papua
🧵 Bahan: serat tumbuhan atau kulit kayu yang dirajut
🎉 Dipakai: sehari-hari dan upacara adat

Noken memang bukan busana, tapi hampir selalu melengkapi pakaian adat Papua. Perempuan dan laki-laki sama-sama memakainya, biasanya untuk membawa hasil kebun atau buruan.

UNESCO menetapkan noken sebagai warisan budaya takbenda pada 4 Desember 2012. Statusnya masuk daftar yang perlu dijaga mendesak karena perajinnya makin sedikit. Beli noken asli berarti ikut mendukung perajin.

Baca Juga: 10 Oleh-Oleh Khas Lombok, dari Makanan sampai Kerajinan

Jelajahi Budaya Nusantara Bersama SatuSatu

Penasaran merasakan budaya Indonesia secara langsung? Kamu bisa cek pilihan pengalamannya di SatuSatu.com lengkap dengan pembayaran lokal seperti BCA, Mandiri, OVO, DANA, dan kartu kredit.

Kalau suka tur desa budaya, coba Penglipuran Village Tur Sehari di Bali. Kamu bisa melihat tata desa adat dan kehidupan warganya. Pengalaman ini cocok untuk kamu yang ingin memahami tradisi lewat kunjungan langsung.

Kalau lebih suka pertunjukan, ada Kecak Fire Dance Uluwatu. Tarian ini menampilkan seni tradisional Indonesia di panggung terbuka. Jadi, kamu bisa menikmati budaya lain setelah mengenal pakaian adat Papua.

Pertanyaan tentang Pakaian Adat Papua

Apa nama pakaian adat Papua yang paling terkenal?
Koteka adalah pakaian adat Papua yang paling terkenal dan dikenakan pria suku Dani, Lani, serta Yali. Sementara itu, pakaian adat perempuan yang sering dikenal adalah rok rumbai dan yokal.

Apakah pakaian adat Papua masih dipakai sekarang?
Ya, pakaian adat Papua masih digunakan, terutama dalam acara adat, festival, dan penyambutan. 

Di mana bisa melihat pakaian adat Papua secara langsung?
Kamu bisa melihat pakaian adat Papua di Festival Budaya Lembah Baliem di Wamena dan Festival Danau Sentani.