Lompat ke konten
Home » 10 Nama Baju Adat Jawa Barat dan Makna Filosofisnya

10 Nama Baju Adat Jawa Barat dan Makna Filosofisnya

Baju adat Jawa Barat sebagian besar berakar dari budaya Sunda, tetapi ada juga pengaruh Cirebon. Setiap busananya punya nama, fungsi, dan makna, mulai dari pakaian rakyat yang sederhana sampai busana pengantin yang megah.

Dulu pakaian ini dibedakan menurut kelas sosial pemakainya. Sekarang siapa saja boleh memakainya. Berikut 10 nama baju adat Jawa Barat untuk pria dan wanita beserta makna filosofisnya.

Pangsi

👤 Pemakai: pria dari kalangan rakyat biasa
🧵 Ciri khas: baju salontreng dan celana komprang, umumnya hitam
✨ Makna: pendirian teguh dan rendah hati

Nama pangsi berasal dari ungkapan pangeusi numpang ka sisi, artinya penutup tubuh yang dililitkan seperti sarung. Filosofinya tersimpan dalam tiga kata, yaitu tangtung, nangtung, dan samping.

Tangtung berarti pendirian yang teguh. Nangtung berarti kuat dalam aturan dan keyakinan, sedangkan samping mengingatkan pemakainya agar rendah hati. Kancingnya berjumlah lima atau enam, merujuk pada rukun Islam atau rukun iman.

Baca Juga: 10 Baju Adat Sunda untuk Pria dan Wanita serta Keunikannya

Kebaya Sunda

👤 Pemakai: wanita
🧵 Ciri khas: kerah berbentuk U, warna cerah, panjang sampai paha
✨ Makna: keanggunan, kepatuhan, dan harga diri perempuan

Kebaya Jawa umumnya berkerah V, sedangkan kebaya Sunda berkerah U. Dulu hanya kaum menak dan bangsawan Priangan yang memakainya, lalu semua kalangan ikut memakainya.

Bangsawan memilih sutra dan beludru, sementara rakyat biasa memakai tenun yang lebih murah. Kain batik Sunda seperti Mega Mendung atau Kawung sering menjadi pasangannya.

Baju Bedahan

👤 Pemakai: pria kalangan menengah
🧵 Ciri khas: baju putih berkerah sederhana, kain kebat batik
✨ Makna: kerapian dan kehormatan

Pemerintah Hindia Belanda dulu mengatur baju ini untuk pegawai negeri, pamongpraja, dan saudagar. Warnanya putih.

Pria melengkapinya dengan beubeur, ikat kepala, dan tarumpah. Detail yang paling khas adalah arloji berantai emas di saku baju.

Menak

👤 Pemakai: bangsawan pria dan wanita
🧵 Ciri khas: jas beludru hitam bersulam benang emas
✨ Makna: kedudukan terhormat

Menak dalam bahasa Sunda berarti terhormat. Busananya sengaja dibuat mewah untuk menunjukkan status sosial.

Pria memakai bendo dan ikat pinggang emas. Wanita menambahkan manik-manik emas, sanggul bertusuk konde, serta bros emas dan berlian.

Beskap Sunda

👤 Pemakai: pria, terutama pejabat
🧵 Ciri khas: potongan tebal, kerah tanpa lipatan, kancing emas besar
✨ Makna: kewibawaan dalam acara resmi

Beskap Sunda lebih tebal dibanding beskap Jawa Tengah. Warnanya hitam, putih, atau putih gading.

Sisi bajunya tidak simetris karena memberi ruang untuk keris. Pemakainya memadukannya dengan kain batik.

Mojang Jajaka

👤 Pemakai: pasangan muda-mudi lajang
🧵 Ciri khas: beskap untuk pria, kebaya senada untuk wanita
✨ Makna: pasangan gadis (mojang) dan perjaka (jajaka)

Busana ini sering muncul di kontes budaya dan pentas seni daerah. Wanita memakai selendang karembong dan perhiasan.

Pria memakai bendo di kepala dan arloji di saku. Kain bawahan keduanya berupa batik.

Pengantin Sunda Putri

👤 Pemakai: pengantin wanita
🧵 Ciri khas: kebaya brokat putih panjang, kalung dan cincin permata
✨ Makna: keanggunan dan kemuliaan pernikahan

Gaya ini terinspirasi dari busana putri kerajaan Sunda masa lampau. Kesannya sederhana, tetapi tetap memikat.

Di pinggang ada benten permata sebagai aksen. Alas kakinya selop dengan bahan dan warna senada kebaya.

Pengantin Sunda Siger

👤 Pemakai: pengantin wanita
🧵 Ciri khas: siger, mahkota segitiga yang menjulang
✨ Makna: penolak bala bagi awal hidup baru

Pada dahi pengantin ditempel daun sirih kecil berbentuk wajik. Masyarakat percaya daun sirih menolak bahaya.

Sanggulnya dihias tujuh kembang goyang. Kain batiknya bermotif Sido Mukti atau Lereng-eneng dengan wiron di depan.

Pengantin Sukapura

👤 Pemakai: pengantin dalam upacara adat perkawinan
🧵 Ciri khas: jas tutup putih, kain rereng, bendo bermotif rereng
✨ Makna: kesucian dan kegagahan

Pengantin pria memakai ikat pinggang dan selop putih. Kalung melati panjang menghiasi dadanya.

Keris atau kujang menjadi senjata tradisional yang diselipkan di pinggang. Busana ini menunjukkan keberagaman gaya pengantin Sunda.

Batik Mega Mendung

👤 Pemakai: pria dan wanita
🧵 Ciri khas: motif awan bergelombang dari Cirebon
✨ Makna: kedamaian, kesabaran, dan kewibawaan

Mega Mendung berasal dari Cirebon dan dipengaruhi budaya Tiongkok. Kainnya menjadi bawahan busana adat atau bahan baju.

Kain ini mewakili sisi Cirebon dalam budaya berbusana Jawa Barat. Awan yang tenang mengingatkan pemakainya agar sabar.

Baca Juga: 10 Nama Baju Adat Jawa Timur dan Keunikan Tradisinya

Jelajahi Bersama SatuSatu

Baju Adat Jawa Barat

Penasaran ingin melanjutkan liburan setelah belajar budaya Sunda? Kamu bisa langsung pesan lewat SatuSatu.com tersedia pembayaran lokal seperti BCA, Mandiri, OVO, DANA, dan kartu kredit.

Kalau mengajak anak, coba Tiket Masuk KidZania Jakarta. Jakarta tidak jauh dari Jawa Barat, dan tempat ini cocok sebagai selingan setelah mengenalkan budaya ke Si Kecil.

Setelah seharian berkeliling, kamu bisa istirahat di Pijat & Refleksi di Kokuo Melawai, Jakarta. Cek syarat dan jadwal di halaman produk sebelum memesan.

Pertanyaan tentang Baju Adat Jawa Barat

Apa nama baju adat Jawa Barat?
Pangsi untuk pria dan kebaya Sunda untuk wanita merupakan baju adat Jawa Barat yang paling dikenal. Ada juga beskap, baju bedahan, menak, dan busana pengantin Sunda.

Apa makna filosofis pangsi?
Pangsi melambangkan pendirian teguh dan sikap rendah hati. Jumlah kancingnya, yaitu lima atau enam, dikaitkan dengan rukun Islam atau rukun iman.

Apakah baju adat Jawa Barat boleh dipakai semua orang?
Boleh. Meski dahulu pemakaiannya berkaitan dengan kelas sosial, sekarang semua kalangan bisa mengenakannya untuk acara adat, kegiatan sekolah, maupun budaya.