Makanan khas Jogja menjadi salah satu alasan banyak orang selalu ingin kembali ke Yogyakarta. Kota ini bukan hanya terkenal dengan wisata budaya dan sejarahnya, tetapi juga punya banyak kuliner legendaris yang sudah bertahan puluhan tahun.
Dari gudeg dengan rasa manis gurih yang khas, sate klathak dengan tusuk jeruji besi yang unik, sampai suasana makan malam sederhana di angkringan, semuanya punya cerita sendiri.
Kalau kamu sedang liburan ke Jogja dan bingung ingin mencoba makanan apa saja, daftar berikut bisa jadi panduan untuk menjelajahi kuliner khas Yogyakarta.
Gudeg
📍 Jalan Wijilan, kawasan Malioboro, dan berbagai tempat makan di seluruh Jogja
💰 Mulai Rp15.000–Rp50.000 per porsi
Kalau membahas makanan khas Jogja, gudeg pasti menjadi menu pertama yang terlintas. Bahkan, makanan ini sudah dianggap sebagai ikon kuliner Yogyakarta.
Gudeg dibuat dari nangka muda yang dimasak dalam waktu lama bersama santan, gula aren, dan berbagai rempah seperti bawang merah, bawang putih, ketumbar, dan kemiri. Proses memasak yang panjang membuat warnanya berubah menjadi cokelat kemerahan dengan rasa manis gurih yang khas.
Nama “gudeg” sendiri berasal dari kata Jawa ngudeg, yang berarti mengaduk. Nama tersebut merujuk pada proses memasaknya yang membutuhkan waktu dan kesabaran.
Biasanya gudeg disajikan bersama nasi putih hangat, telur rebus, ayam kampung, krecek pedas, dan areh atau kuah santan kental. Ada dua jenis gudeg yang populer, yaitu gudeg basah dengan kuah santan yang lebih banyak dan gudeg kering yang lebih tahan lama sehingga cocok dibawa pulang.
Sate Klathak
📍 Kawasan Imogiri Timur dan Bantul, salah satunya Sate Klathak Pak Pong
💰 Rp30.000–Rp55.000 per porsi
Sate klathak menjadi salah satu kuliner Jogja yang punya ciri khas unik. Kalau biasanya sate menggunakan tusuk bambu, sate klathak justru menggunakan jeruji besi bekas sepeda.
Nama “klathak” dipercaya berasal dari bunyi garam yang jatuh dan berbunyi saat ditaburkan ke daging yang sedang dibakar.
Berbeda dari sate kambing pada umumnya, sate klathak hanya menggunakan bumbu sederhana berupa garam dan merica. Hal ini membuat rasa asli daging kambing muda tetap terasa kuat.
Penggunaan jeruji besi juga bukan tanpa alasan. Logam membantu menghantarkan panas sehingga daging matang lebih merata dan tetap juicy di bagian dalam.
Biasanya sate klathak disajikan dengan nasi hangat dan kuah gulai bening yang segar. Kombinasi sederhana ini justru menjadi alasan banyak wisatawan rela mengantre untuk mencobanya.
Oseng-Oseng Mercon
📍 Kawasan Malioboro dan berbagai warung makan Jogja
💰 Mulai Rp30.000–Rp50.000 per porsi
Buat pencinta makanan pedas, oseng-oseng mercon adalah kuliner Jogja yang wajib masuk daftar.
Namanya memang terdengar ekstrem, dan rasanya pun sesuai dengan namanya. Hidangan ini dibuat dari tetelan daging sapi, koyor, dan cabai rawit dalam jumlah banyak yang dimasak bersama bumbu rempah hingga menghasilkan rasa pedas yang meledak-ledak.
Meski pedas, rasa gurih dari bumbu yang meresap ke dalam daging membuat makanan ini tetap banyak digemari.
Salah satu yang paling terkenal adalah Oseng Mercon Bu Narti yang sudah berjualan sejak 1977. Paling nikmat disantap bersama nasi putih hangat dan minuman dingin untuk menyeimbangkan rasa pedasnya.
Bakmi Jawa
📍 Tersebar di seluruh Jogja, terutama sekitar Malioboro dan kawasan pusat kota
💰 Mulai Rp15.000–Rp35.000 per porsi
Bakmi Jawa punya cita rasa yang berbeda dari mi pada umumnya. Salah satu ciri khasnya adalah proses memasaknya yang masih menggunakan tungku arang.
Setiap porsi biasanya dimasak satu per satu menggunakan wajan kecil. Karena itu, proses memasaknya memang lebih lama, tetapi hasilnya memberikan aroma asap yang khas.
Bakmi Jawa biasanya disajikan dengan kuah kaldu ayam kampung, suwiran ayam, telur, dan daun bawang. Ada dua pilihan yang populer, yaitu bakmi godhog (rebus) dan bakmi goreng.
Kebanyakan warung bakmi Jawa buka mulai sore hingga malam hari. Jadi, kuliner ini cocok banget dinikmati setelah seharian berkeliling Jogja.
Mangut Lele
📍 Kawasan Bantul dan Sewon, salah satunya Mangut Lele Mbah Marto
💰 Mulai Rp15.000–Rp30.000 per porsi
Mangut lele mungkin belum sepopuler gudeg, tetapi makanan ini punya rasa yang tidak kalah menarik.
Lele biasanya diasap atau digoreng terlebih dahulu, kemudian dimasak kembali dengan santan, cabai, dan berbagai rempah hingga kuahnya meresap.
Hasilnya adalah daging lele yang lembut dengan aroma asap yang khas dan rasa gurih pedas dari kuah santannya.
Mangut lele paling enak disantap bersama nasi putih hangat dan lalapan. Kalau sedang berkunjung ke Bantul, makanan ini wajib masuk daftar kuliner yang dicoba.
Jadah Tempe
📍 Kawasan Kaliurang, Sleman
💰 Rp10.000–Rp20.000 per porsi
Jadah tempe merupakan kuliner khas Kaliurang yang sering disebut sebagai “burger Jawa”. Sebutan ini muncul karena cara makannya yang menggabungkan dua bagian utama, yaitu jadah dan tempe.
Jadah terbuat dari ketan yang dikukus, dipadatkan, lalu dipanggang hingga bagian luarnya sedikit renyah. Teksturnya kenyal dengan rasa gurih.
Sementara itu, tempe bacem memberikan rasa manis yang menjadi pasangan sempurna untuk jadah.
Konon, jadah tempe pernah menjadi salah satu camilan favorit Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Menikmatinya sambil menikmati udara sejuk Kaliurang membuat pengalaman kuliner ini terasa semakin istimewa.
Ayam Geprek
📍 Tersedia di berbagai tempat makan di Jogja, salah satunya Ayam Geprek Bu Rum
💰 Mulai Rp15.000–Rp30.000 per porsi
Ayam geprek memang sekarang sudah mudah ditemukan di berbagai daerah Indonesia, tetapi Jogja dikenal sebagai salah satu tempat awal populernya kuliner ini.
Konsepnya sederhana: ayam goreng tepung digeprek bersama sambal bawang yang dibuat dari cabai, bawang putih, dan bumbu lainnya.
Perpaduan ayam yang renyah dengan sambal pedas membuat makanan ini punya banyak penggemar.
Kalau berkunjung ke Jogja, mencoba ayam geprek langsung dari kota asal populernya tentu memberikan pengalaman berbeda.
Nasi Kucing dan Angkringan
📍 Angkringan Lik Man dekat Stasiun Tugu dan berbagai angkringan di seluruh Jogja
💰 Mulai Rp3.000–Rp5.000 per bungkus nasi kucing
Angkringan adalah salah satu pengalaman kuliner yang paling melekat dengan suasana Jogja.
Dengan gerobak sederhana, bangku kayu panjang, dan berbagai pilihan lauk, angkringan menjadi tempat favorit warga lokal maupun wisatawan untuk makan santai.
Menu yang paling terkenal adalah nasi kucing, yaitu nasi dengan porsi kecil yang biasanya berisi sambal teri atau oseng tempe dan dibungkus daun pisang.
Disebut nasi kucing karena porsinya memang kecil seperti makanan untuk kucing. Biasanya orang akan membeli beberapa bungkus sekaligus bersama lauk tambahan seperti sate usus, sate telur puyuh, atau gorengan.
Makan di angkringan sambil ngobrol santai adalah salah satu pengalaman khas Jogja yang sulit ditemukan di tempat lain.
Kopi Joss
📍 Angkringan Lik Man dan area sekitar Stasiun Tugu Yogyakarta
💰 Rp5.000–Rp8.000 per gelas
Kopi joss menjadi salah satu minuman khas Jogja yang punya cara penyajian unik.
Kopi hitam panas yang sudah diseduh akan diberi tambahan arang panas yang masih membara. Saat dimasukkan, terdengar bunyi “joss”, yang kemudian menjadi asal nama minuman ini.
Kopi joss pertama kali dikenal luas melalui Angkringan Lik Man yang sudah ada sejak tahun 1950-an di dekat Stasiun Tugu.
Minuman ini paling nikmat dinikmati malam hari sambil duduk santai di angkringan dan menikmati suasana kota Jogja.
Wedang Ronde
📍 Alun-Alun Kidul dan pedagang kaki lima malam hari di Jogja
💰 Rp8.000–Rp15.000 per mangkuk
Wedang ronde adalah pilihan tepat untuk menemani suasana malam Jogja.
Minuman hangat ini berisi bola-bola ketan dengan isian kacang yang disajikan bersama kuah jahe. Biasanya ditambah dengan kolang-kaling, roti tawar, dan bahan pelengkap lainnya.
Meski berasal dari tradisi Tionghoa, wedang ronde sudah menjadi bagian dari budaya kuliner malam Yogyakarta selama bertahun-tahun.
Menikmati semangkuk wedang ronde di tengah suasana malam Jogja yang ramai membuat pengalaman kuliner terasa lebih lengkap.
Liburan di Jogja Bersama SatuSatu

Setelah puas mencoba berbagai makanan khas Jogja, kamu bisa melanjutkan perjalanan dengan menjelajahi destinasi wisata lainnya melalui SatuSatu.com
Berbagai aktivitas wisata tersedia dalam satu platform dengan metode pembayaran lokal seperti BCA, Mandiri, OVO, DANA, dan kartu kredit.
Borobudur Temple menjadi pilihan tepat untuk melengkapi perjalanan budaya di Jogja. Candi Buddha terbesar di dunia ini memiliki ribuan relief dan ratusan stupa yang menyimpan cerita sejarah luar biasa.
Keraton Ratu Boko juga bisa menjadi destinasi berikutnya untuk menikmati suasana berbeda. Situs kerajaan kuno ini terkenal dengan pemandangan matahari terbenam yang indah dengan latar alam Yogyakarta.
Pertanyaan Seputar Makanan Khas Jogja
Apa makanan khas Jogja yang paling terkenal?
Gudeg adalah kuliner khas Jogja yang paling terkenal. Selain itu, ada sate klathak, oseng-oseng mercon, bakmi Jawa, dan angkringan yang wajib dicoba.
Di mana tempat terbaik mencoba makanan khas Jogja?
Gudeg terkenal di kawasan Wijilan, sate klathak di Bantul dan Imogiri, sedangkan angkringan dan kopi joss banyak ditemukan di sekitar Stasiun Tugu.
Berapa budget untuk wisata kuliner di Jogja?
Siapkan sekitar Rp50.000–Rp100.000 per hari untuk mencicipi beberapa kuliner khas. Harga makanan di Jogja cukup terjangkau, mulai dari nasi kucing hingga gudeg dan sate klathak.