Pura Besakih adalah kompleks pura terbesar sekaligus pura paling suci bagi umat Hindu di Bali. Lokasinya berada di lereng barat daya Gunung Agung, Kabupaten Karangasem.
Pura yang dijuluki Mother Temple of Bali ini terdiri dari 26 pura dengan Pura Penataran Agung Besakih sebagai pusatnya. Setiap tahun, ribuan umat Hindu dari berbagai daerah di Bali datang untuk beribadah di sini.
Karena itulah, Pura Besakih bukan hanya dikenal sebagai destinasi wisata, tetapi juga menjadi pusat kehidupan spiritual masyarakat Hindu Bali.
Sejarah Singkat Pura Besakih
Pura Besakih dipercaya sudah menjadi tempat yang disucikan jauh sebelum agama Hindu berkembang di Bali. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya peninggalan dari zaman megalitik, seperti menhir, tahta batu, dan teras berundak yang diperkirakan sudah ada sejak sekitar 2.000 tahun lalu.
Dalam sejarahnya, nama Rsi Markandeya menjadi tokoh yang paling sering dikaitkan dengan berdirinya kawasan suci ini. Dikisahkan, beliau mendirikan Pura Basukian setelah mendapat petunjuk saat bertapa di Gunung Dieng. Dari sinilah cikal bakal Pura Besakih mulai berkembang.
Nama “Besakih” sendiri diyakini berasal dari kata wasuki atau basuki dalam bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno yang berarti selamat atau sejahtera. Nama tersebut juga berkaitan dengan sosok Naga Basuki dalam kepercayaan Hindu yang dipercaya menjaga keseimbangan alam semesta.
Memasuki abad ke-15, Pura Besakih ditetapkan sebagai pura negara pada masa Kerajaan Gelgel. Dalam Lontar Padma Bhuana, pura ini disebut sebagai Huluning Bali Rajya, yang berarti pusat atau jiwa dari Pulau Bali.
Struktur dan Tata Letak Pura Besakih
Kawasan Pura Besakih terdiri dari 26 pura. Pura Penataran Agung Besakih menjadi pusat kompleks, sementara 25 pura lainnya mengelilinginya sebagai Pura Pakideh.
Penataan kawasan ini mengikuti filosofi Tri Hita Karana, yaitu konsep kehidupan yang menekankan keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan (parhyangan), manusia dengan sesama (pawongan), dan manusia dengan alam (palemahan).
Selain itu, tata letak pura juga mengikuti arah mata angin yang dikaitkan dengan konsep Dewa Catur Lokapala dan diwujudkan dalam Panca Dewata, yaitu:
- Pura Penataran Agung Besakih berada di tengah sebagai pusat pemujaan Dewa Siwa.
- Pura Gelap di sisi timur sebagai tempat pemujaan Dewa Iswara.
- Pura Kiduling Kereteg di sisi selatan sebagai tempat pemujaan Dewa Brahma.
- Pura Ulun Kulkul di sisi barat sebagai tempat pemujaan Dewa Mahadewa.
- Pura Batu Madeg di sisi utara sebagai tempat pemujaan Dewa Wisnu.
Di dalam Pura Penataran Agung terdapat tiga pelinggih utama yang dikenal sebagai Padma Tiga. Ketiganya melambangkan Tri Purusha, yaitu Siwa, Sada Siwa, dan Parama Siwa yang menggambarkan tingkatan kesadaran spiritual dalam ajaran Hindu Bali.
Lokasi dan Cara Menuju Pura Besakih
Pura Besakih berada di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali. Lokasinya berada di lereng Gunung Agung sehingga memiliki udara yang sejuk, terutama pada pagi dan sore hari.
Kalau berangkat dari Denpasar, perjalanan menuju Pura Besakih memakan waktu sekitar dua jam. Sementara dari Ubud, waktu tempuhnya sekitar satu setengah jam dengan kendaraan.
Hingga saat ini belum tersedia transportasi umum langsung menuju kawasan pura. Karena itu, wisatawan biasanya memilih menyewa mobil, motor, atau menggunakan jasa sopir agar perjalanan lebih nyaman.
Jalan menuju Pura Besakih juga cukup menanjak saat mendekati kawasan pegunungan, jadi pastikan kendaraan dalam kondisi baik.
Harga Tiket dan Jam Operasional Pura Besakih
Pura Besakih dibuka untuk wisatawan setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 18.00 WITA. Sementara itu, bagi umat Hindu yang ingin bersembahyang, kawasan pura tetap terbuka selama 24 jam.
Harga tiket masuk saat ini sekitar Rp80.000 per orang untuk wisatawan domestik dan Rp150.000 per orang untuk wisatawan mancanegara. Tiket tersebut sudah termasuk kain sarung, layanan pemandu lokal, serta kendaraan listrik dari area parkir menuju gerbang utama pura.
Biaya parkir dikenakan terpisah, yaitu sekitar Rp5.000 untuk sepeda motor dan Rp10.000 untuk mobil. Karena harga tiket dapat berubah sewaktu-waktu, sebaiknya cek informasi terbaru sebelum berkunjung.
Upacara dan Festival di Pura Besakih
Sebagai pusat kegiatan keagamaan umat Hindu di Bali, Pura Besakih hampir selalu memiliki rangkaian upacara setiap tahunnya.
Tercatat ada sekitar 70 upacara dan festival yang digelar karena masing-masing pura memiliki hari jadi berdasarkan kalender Pawukon Bali yang berlangsung setiap 210 hari.
Salah satu upacara terbesar adalah Ida Bhatara Turun Kabeh, ketika ribuan umat Hindu dari berbagai daerah datang untuk bersembahyang bersama. Selain itu, ada juga upacara Odalan yang dilaksanakan setiap 210 hari, serta Panca Wali Krama, upacara besar yang digelar dalam periode tertentu.
Kalau berkunjung saat upacara besar berlangsung, suasana di kawasan pura biasanya jauh lebih ramai.
Beberapa area juga bisa ditutup sementara untuk wisatawan karena digunakan sebagai tempat ibadah. Supaya perjalanan lebih nyaman, sebaiknya cek jadwal upacara terlebih dahulu sebelum datang.
Tips Berkunjung ke Pura Besakih

Pura Besakih merupakan tempat ibadah yang masih aktif digunakan hingga sekarang. Karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan selama berkunjung.
Kalau ingin menikmati suasana yang lebih tenang, datanglah pada pagi hari sekitar pukul 08.00. Selain udaranya masih sejuk, jumlah pengunjung biasanya belum terlalu ramai.
Meskipun kain sarung sudah disediakan dalam tiket masuk, sebaiknya tetap mengenakan pakaian yang sopan sebagai bentuk penghormatan terhadap tempat suci ini.
Selama berada di kawasan pura, ikuti arahan pemandu lokal. Selain membantu menunjukkan jalur kunjungan, mereka juga akan menjelaskan sejarah dan makna dari setiap bagian pura. Perlu diingat, ada beberapa area yang hanya boleh dimasuki oleh umat Hindu yang sedang beribadah.
Karena lokasinya berada di lereng Gunung Agung yang masih aktif, jangan lupa memantau informasi terbaru mengenai status gunung sebelum berkunjung. Jika statusnya meningkat menjadi Siaga atau Awas, kawasan wisata biasanya akan ditutup sementara demi alasan keselamatan.
Jelajahi Bersama SatuSatu
Kalau sedang merencanakan liburan ke Bali, kamu juga bisa melengkapi itinerary melalui SatuSatu.com
Beragam aktivitas wisata tersedia dengan pilihan pembayaran lokal seperti BCA, Mandiri, OVO, DANA, hingga kartu kredit.
Setelah mengunjungi Pura Besakih, sempatkan juga menyaksikan Kecak Fire Dance Uluwatu dari SatuSatu.
Pertunjukan tari kecak yang digelar di tebing Pura Luhur Uluwatu ini menghadirkan perpaduan budaya Bali, suara paduan puluhan penari, dan pemandangan matahari terbenam yang menjadi salah satu pengalaman paling ikonik di Pulau Dewata.
Pertanyaan Seputar Pura Besakih
Mengapa Pura Besakih disebut Mother Temple of Bali?
Karena menjadi pusat kegiatan keagamaan umat Hindu di Bali dan dianggap sebagai induk dari pura-pura lain di pulau ini.
Apakah wisatawan non-Hindu boleh masuk ke Pura Besakih?
Boleh. Wisatawan dapat berkunjung dengan mengenakan sarung, berpakaian sopan, dan mematuhi aturan. Beberapa area hanya untuk umat Hindu yang bersembahyang.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk berkeliling Pura Besakih?
Sekitar 40–60 menit untuk area utama, atau hingga 2 jam jika mengikuti pemandu atau berkunjung saat upacara berlangsung.