Rumah adat Aceh ternyata tidak cuma punya satu bentuk. Ada beberapa jenis bangunan tradisional yang punya fungsi dan keunikan masing-masing.
Mulai dari Rumoh Aceh yang paling dikenal sampai Balee yang ukurannya lebih kecil. Semua punya peran penting dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Menariknya, rumah tradisional Aceh umumnya menggunakan konsep rumah panggung. Bentuk ini berkaitan dengan faktor keselamatan sekaligus membuat rumah terasa lebih sejuk.
Yuk, kenali 5 jenis rumah adat Aceh dan keunikannya berikut ini.
Rumoh Aceh (Krong Bade)
Rumoh Aceh atau Krong Bade menjadi salah satu rumah adat Aceh yang paling dikenal. Bentuknya sering dijadikan gambaran saat membahas rumah tradisional Aceh.
Rumah ini berbentuk panggung dengan tinggi sekitar 2,5–3 meter dari tanah. Sebagian besar strukturnya menggunakan kayu, sedangkan bagian atapnya menggunakan daun rumbia.
Rumoh Aceh biasanya terbagi menjadi tiga bagian utama:
- Seuramoe keue: serambi depan yang digunakan untuk menerima tamu laki-laki.
- Seuramoe teungoh: bagian tengah yang menjadi ruang keluarga inti.
- Seuramoe likot: bagian belakang yang digunakan untuk tamu perempuan sekaligus dapur.
Salah satu keunikan Rumoh Aceh ada pada jumlah anak tangganya. Anak tangga biasanya dibuat dalam jumlah ganjil.
Rumah ini juga memiliki ukiran dengan motif flora dan fauna. Hiasan pada rumah dapat menunjukkan status sosial pemiliknya.
Baca Juga: Mengenal Tari Saman yang Berasal dari Aceh
Rumoh Santeut
Rumoh Santeut atau Tampong Limong merupakan rumah adat Aceh dengan bentuk yang lebih sederhana. Rumah ini menggunakan material yang relatif lebih sederhana dibandingkan Rumoh Aceh.
Salah satu cirinya terlihat dari penggunaan bambu pada bagian lantai. Belahan bambu disusun rapat sehingga tetap nyaman untuk digunakan.
Penggunaan bambu juga membantu sirkulasi udara di dalam rumah. Ruangan pun terasa lebih sejuk dan tidak terlalu lembap.
Rumoh Santeut memiliki tiang yang lebih rendah. Tingginya sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah.
Bagian kolong rumah juga bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan. Misalnya untuk menerima tamu atau mengadakan acara sederhana bersama keluarga.
Dari segi pembangunan, Rumoh Santeut juga lebih hemat dibandingkan rumah adat yang menggunakan banyak material kayu.
Rangkang
Kalau Rumoh Aceh digunakan sebagai tempat tinggal, Rangkang punya fungsi yang berbeda. Bangunan ini lebih sering digunakan sebagai tempat singgah atau beristirahat sementara.
Rangkang biasanya digunakan oleh petani yang sedang beristirahat setelah bekerja. Bangunan ini juga bisa menjadi tempat berteduh bagi orang yang sedang melakukan perjalanan.
Bentuknya masih mengikuti konsep rumah panggung khas Aceh. Namun, ukurannya jauh lebih kecil dan biasanya hanya terdiri dari satu ruangan.
Material yang digunakan juga cukup sederhana. Umumnya berupa kayu dengan atap dari daun rumbia.
Karena hanya digunakan untuk sementara, Rangkang tidak memiliki pembagian ruangan selengkap Rumoh Aceh. Keunggulannya justru terletak pada bentuknya yang praktis.
Rangkang biasanya dapat ditemukan di sekitar area persawahan atau jalur yang sering dilalui masyarakat.
Meunasah
Meunasah memiliki fungsi yang cukup berbeda dari rumah adat Aceh lainnya. Bangunan ini lebih dikenal sebagai tempat beribadah, mengaji, dan berkumpulnya masyarakat.
Meunasah juga punya peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat Aceh. Warga dapat menggunakannya untuk melakukan musyawarah dan membahas berbagai urusan kampung.
Dalam tradisi masyarakat Aceh, Meunasah juga menjadi tempat berkumpul bagi anak laki-laki. Mereka biasanya mengaji, beristirahat, dan melakukan berbagai kegiatan bersama.
Karena itu, Meunasah bukan hanya bangunan untuk kegiatan keagamaan. Tempat ini juga menjadi ruang sosial yang mempererat hubungan antarwarga.
Beberapa fungsi Meunasah antara lain:
- Tempat mengaji.
- Tempat beribadah.
- Tempat bermusyawarah.
- Tempat berkumpul warga.
- Tempat berbagai kegiatan sosial masyarakat.
Balee
Balee merupakan bangunan tradisional Aceh yang ukurannya lebih kecil. Letaknya biasanya berada di sekitar Rumoh Aceh.
Walaupun ukurannya mungil, fungsi Balee cukup beragam. Bangunan ini dapat digunakan untuk belajar mengaji, beristirahat, menyampaikan informasi, hingga berkumpul bersama warga.
Balee juga bisa menjadi tempat musyawarah dalam lingkup yang lebih kecil. Suasananya cenderung lebih santai dibandingkan kegiatan yang dilakukan di Meunasah.
Kalau Meunasah lebih banyak digunakan untuk kegiatan keagamaan dan sosial yang bersifat formal, Balee bisa menjadi ruang interaksi sehari-hari.
Jadi, keberadaan Balee melengkapi fungsi bangunan tradisional dalam lingkungan masyarakat Aceh.
Perbedaan 5 Rumah Adat Aceh

Biar lebih gampang dibedakan, berikut ringkasannya:
- Rumoh Aceh: digunakan sebagai tempat tinggal dan memiliki tiga bagian utama.
- Rumoh Santeut: rumah tinggal dengan bentuk lebih sederhana dan menggunakan bambu.
- Rangkang: bangunan kecil yang digunakan sebagai tempat singgah atau beristirahat.
- Meunasah: digunakan untuk ibadah, mengaji, dan kegiatan sosial masyarakat.
- Balee: bangunan kecil yang digunakan untuk mengaji, berkumpul, dan berbagai kegiatan warga.
Kelima bangunan tersebut menunjukkan bahwa arsitektur tradisional Aceh tidak hanya soal bentuk. Setiap bangunan juga punya fungsi yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Baca Juga: Zona Waktu Indonesia: Pembagian WIB, WITA, dan WIT
Jelajahi Indonesia Bersama SatuSatu
Setelah mengenal rumah adat Aceh, kamu juga bisa mencari berbagai aktivitas wisata di Indonesia lewat SatuSatu.com
Kalau ingin melihat kawasan dengan rumah tradisional yang masih terjaga, kamu bisa mencoba Penglipuran Village Tur Sehari di Bali.
Memang bukan rumah adat Aceh. Namun, tempat ini bisa jadi pilihan buat kamu yang ingin melihat langsung suasana desa dengan arsitektur tradisional yang masih terawat.
Pertanyaan Seputar Rumah Adat Aceh
Apa saja jenis rumah adat Aceh?
Rumah adat Aceh antara lain Rumoh Aceh atau Krong Bade, Rumoh Santeut, Rangkang, Meunasah, dan Balee. Masing-masing memiliki fungsi berbeda, mulai dari tempat tinggal hingga tempat berkumpul dan beribadah.
Mengapa rumah adat Aceh berbentuk panggung?
Bentuk panggung membantu melindungi penghuni dari banjir dan hewan liar, sekaligus membuat sirkulasi udara lebih baik sehingga rumah terasa sejuk.
Apa perbedaan Meunasah dan Balee?
Meunasah digunakan untuk ibadah, mengaji, dan musyawarah warga. Sementara Balee berukuran lebih kecil dan digunakan untuk berbagai kegiatan sehari-hari.