Menara Saidah adalah gedung pencakar langit kosong di Jalan MT Haryono, Jakarta Selatan, yang tidak dipakai lagi sejak 2007. Bangunan 28 lantai ini dikenal lewat gaya Romawi klasiknya, isu miring, dan cerita angker yang tak habis-habis.
Gedung ini milik swasta dan tertutup untuk umum, jadi kamu hanya bisa melihatnya dari luar. Di artikel ini kamu akan tahu lokasi, sejarah, alasan belum dirobohkan, dan cara melihatnya dengan aman.
Lokasi dan Akses ke Menara Saidah
Menara Saidah berdiri di tepi Jalan MT Haryono, kawasan Pancoran–Cawang, Jakarta Selatan. Sebagian media menyebut Jakarta Timur karena letaknya dekat perbatasan Cawang.
Aksesnya mudah karena halte TransJakarta Cawang dan lintasan LRT hanya beberapa meter dari gedung. Jadi kamu tidak perlu repot mencari parkir, cukup turun dari transportasi umum dan lihat dari trotoar.
Baca Juga: Cara ke GBK Naik KRL, MRT, dan TransJakarta
Apakah Menara Saidah Bisa Dikunjungi?

Tidak ada tiket masuk maupun jam buka, karena Menara Saidah bukan tempat wisata. Pagar seng setinggi dua meter dengan tulisan larangan masuk mengelilingi gedung.
Menurut liputan terbaru pada November 2025, empat satpam berjaga siang dan malam. Hanya penjaga dan pemilik yang boleh masuk. Per 24 Oktober 2026, belum ada pengumuman resmi bahwa gedung ini dibuka untuk publik.
Sejarah Menara Saidah
Gedung ini dibangun sejak 1995 oleh PT Hutama Karya dan rampung sekitar 1998. Awalnya bernama Gracindo, milik Mooryati Soedibyo, pendiri Mustika Ratu.
Tak lama kemudian, gedung dilelang dan dimenangkan keluarga Saidah Abu Bakar Ibrahim, pemilik Merial Group.
Putranya, Fajri Setiawan, merenovasi gedung besar-besaran. Jumlah lantainya bertambah dari belasan menjadi 28, dan namanya berganti menjadi Menara Saidah.
Gedung kembali beroperasi sebagai perkantoran pada 2001 dan sempat dihuni kantor kementerian serta lembaga negara. Namun pada 2007, para penyewa pergi satu per satu.
Menara Saidah Miring atau Tidak?
Isu miring muncul saat penyewa meninggalkan gedung pada 2007. Namun pengelola saat itu, PT Gamlindo Nusa, membantahnya dan menyebut pengosongan terjadi karena masa sewa habis.
Pemeriksaan resmi juga tidak menemukan masalah. Pada 2013, Suku Dinas P2B Jakarta Selatan tidak menemukan kegagalan konstruksi.
Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan DKI Jakarta kembali menyatakan gedung ini tidak miring pada 2025.
Jadi, alasan gedung ini kosong lebih rumit daripada soal kemiringan. Sejumlah laporan media menyebut konflik pengelolaan dan kepemilikan keluarga sebagai faktor lain.
Kenapa Menara Saidah Belum Dirobohkan?
Karena gedung ini aset swasta, bukan milik Pemprov DKI. Pemerintah hanya berwenang mengawasi dan menilai teknis, sedangkan pembongkaran tetap dilakukan pemilik.
Selama belum ada laporan atau kajian terbaru yang menyatakan gedung berbahaya, Pemprov menyebut tidak ada dasar hukum untuk membongkarnya. Rencana pengambilalihan oleh Pemprov pada 2016 juga tidak terealisasi.
Selain itu, merobohkan gedung setinggi ini di kawasan padat bukan perkara mudah. Pengamat lingkungan mengingatkan risiko debu halus, kebisingan 70–90 desibel, dan getaran bagi bangunan di sekitarnya.
Sertifikat Laik Fungsi gedung ini sudah tidak berlaku, dan pengawasan terakhir dilakukan lebih dari lima tahun lalu.
Dinas sempat menyebut gedung ini kemungkinan masuk jadwal pengawasan 2026, tapi hasilnya belum kami temukan per 24 Oktober 2026.
Daya Tarik Menara Saidah
Daya tarik utamanya ada di fasad. Tiang besar bergaya Korintus dan ornamen bergaya Eropa membuatnya beda dari gedung kaca di sekitarnya.
Menurut arsip Hutama Karya yang dikutip media, sebagian ornamen dan patung diimpor dari Italia.
Namun jujur saja, kamu tidak akan melihat banyak dari balik pagar. Kontras antara gedung terbengkalai ini dan LRT yang lalu-lalang justru jadi pemandangan paling menarik.
Menara Saidah juga terkenal lewat cerita viral. Ada pengemudi ojek online yang mengaku menerima pesanan fiktif ke gedung ini, dan video tirai jendela naik turun ramai dibicarakan pada November 2025.
Semua itu baru cerita warganet dan belum terbukti.
Yang Bisa Dilakukan di Sekitar Menara Saidah
- Foto fasad gedung dari luar pagar, terutama pilar dan bagian puncaknya.
- Perhatikan perpaduan gedung bergaya Romawi dengan lintasan LRT di atasnya.
- Lanjutkan perjalanan naik TransJakarta atau LRT ke tempat lain di Jakarta.
Tips Melihat Menara Saidah dengan Aman
Jangan masuk atau memanjat pagar. Gedung ini milik pribadi dan dijaga, dan liputan di dalamnya menemukan kaca pecah serta lift yang hanya menyisakan poros besi.
Datanglah siang atau sore hari. Warga sekitar bilang suasana malam di sini sangat sepi. Karena halte di bawahnya padat penumpang, berhati-hatilah di trotoar saat jam sibuk.
Baca Juga:
Jelajahi Jakarta Bersama SatuSatu
Setelah puas melihat gedung kosong, mau ganti suasana ke tempat yang lebih ramai?
Kamu bisa pesan tiket atraksi Jakarta lewat SatuSatu.com tersedia berbagai metode pembayaran lokal seperti BCA, Mandiri, OVO, DANA, dan kartu kredit.
Tiket Masuk KidZania Jakarta cocok kalau kamu pergi bersama anak. Kota mini ini punya lebih dari 100 aktivitas bermain peran, dan satu tiket berlaku untuk sekali kunjungan dengan waktu main hingga 5 jam.
Harganya mulai dari USD 10,64, tapi tiket tidak bisa dibatalkan atau dijadwal ulang.
Kalau mau suasana yang lebih sejuk, coba Jakarta Tiket Masuk Safari Akuarium. Akuarium dalam ruangan ini ada di Jakarta Barat, dengan pilihan tiket untuk warga negara Indonesia maupun warga negara asing.
Harganya mulai dari sekitar USD 10,55, jadi pas untuk jeda setelah keliling kota.
Pertanyaan Seputar Menara Saidah
Apa itu Menara Saidah?
Menara Saidah adalah gedung perkantoran 28 lantai di Jalan MT Haryono, Jakarta Selatan, yang kosong sejak 2007. Namanya diambil dari pemiliknya, Saidah Abu Bakar Ibrahim.
Apakah Menara Saidah boleh dimasuki wisatawan?
Tidak, karena gedung ini milik swasta dan ditutup untuk umum. Pengunjung hanya bisa melihatnya dari luar pagar.
Sudah berapa lama Menara Saidah kosong?
Sekitar 19 tahun sejak 2007. Namun, beberapa media mencatat gedung ini mulai kosong pada 2009, sehingga informasi tahunnya berbeda-beda.