Rumah adat Jambi ternyata tidak hanya punya satu bentuk. Ada lima jenis rumah yang masing-masing memiliki ciri khas dan fungsi berbeda.
Ada rumah panggung yang berdiri di daratan. Ada juga hunian yang dibangun di atas perairan.
Keunikan rumah adat Jambi bukan cuma terlihat dari bentuk bangunannya. Setiap rumah juga menyimpan cerita tentang kehidupan, lingkungan, dan budaya masyarakat setempat.
Yuk, kenalan dengan lima rumah adat Jambi dan keunikannya berikut ini.
Kajang Lako
Kajang Lako merupakan rumah adat Jambi yang paling dikenal. Rumah ini juga menjadi salah satu identitas budaya Provinsi Jambi.
Kajang Lako dikenal pula dengan nama Rumah Lamo. Rumah tradisional ini memiliki bentuk persegi panjang dengan ukuran sekitar 12 x 9 meter.
Bangunannya ditopang oleh 30 tiang kayu. Tinggi tiangnya mencapai sekitar 4,25 meter sehingga membuat rumah terlihat seperti rumah panggung yang cukup tinggi.
Bagian yang paling mudah dikenali adalah atapnya. Atap Kajang Lako disebut Gajah Mabuk.
Nama tersebut berkaitan dengan cerita rakyat tentang pembuat rumah yang sedang dimabuk cinta. Namun, cintanya tidak mendapat restu dari orang tua.
Bentuk atapnya melengkung dan menyerupai perahu. Atap tersebut dibuat dari ijuk yang dianyam dan kemudian dilipat menjadi dua.
Kajang Lako juga memiliki beberapa ruangan dengan fungsi yang berbeda. Di antaranya:
- Pelamban
- Ruang gaho
- Ruang tengah
- Ruang tamu
- Ruang tidur
- Ruang makan
- Dapur
Pembagian ruang tersebut menyesuaikan kehidupan masyarakat Batin yang menempati rumah ini.
Kalau ingin melihat bentuk Kajang Lako secara langsung, salah satu lokasinya berada di Kampung Lamo, Rantau Panjang, Kabupaten Merangin.
Baca Juga: 7 Rumah Adat Kalimantan Selatan dan Ciri Khasnya
Larik
Kalau Kajang Lako biasanya berdiri sebagai satu rumah, Larik punya bentuk yang cukup berbeda. Rumah adat Jambi ini dibuat berjajar dalam satu deretan.
Larik banyak ditemukan di wilayah Kerinci. Dalam satu deretan, rumahnya bisa terdiri dari sekitar 30 sampai 35 rumah yang saling bersambungan.
Pola tersebut membuat kawasan tempat tinggal terlihat memanjang. Susunan rumah juga berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang tinggal bersama dalam satu lingkungan.
Selain menjadi tempat tinggal, pola berjajar ini membantu masyarakat mengatur ruang dan menjaga lingkungan. Susunan tersebut juga memperlihatkan kuatnya kebersamaan dan gotong royong masyarakat Kerinci.
Jadi, keunikan Larik bukan hanya pada bentuk rumahnya. Pola permukimannya juga menjadi bagian penting dari karakter rumah tradisional ini.
Lumbung
Tidak semua bangunan tradisional Jambi digunakan sebagai tempat tinggal. Salah satunya adalah rumah Lumbung.
Sesuai namanya, bangunan ini digunakan untuk menyimpan hasil panen, terutama padi. Karena itu, rumah Lumbung biasanya berada di belakang rumah utama.
Bangunan ini bisa ditemukan dalam lingkungan rumah tradisional seperti Kajang Lako atau Larik. Letaknya yang terpisah membuat hasil panen lebih mudah disimpan tanpa mengganggu aktivitas di rumah utama.
Dari segi bentuk, rumah Lumbung tetap memiliki karakter rumah panggung khas Jambi. Bangunannya menunjukkan bagaimana masyarakat zaman dulu mengatur kebutuhan tempat tinggal sekaligus penyimpanan bahan pangan.
Fungsi utamanya adalah:
- Menyimpan hasil panen.
- Menjaga persediaan pangan.
- Memisahkan tempat penyimpanan dari rumah utama.
Rumah Arab Melayu Jambi
Rumah Arab Melayu Jambi memperlihatkan pengaruh budaya yang berkembang di kawasan Seberang Kota Jambi. Bentuknya merupakan perpaduan unsur Arab dan Melayu.
Dari luar, bangunan ini terlihat cukup sederhana. Namun, bagian dalamnya memiliki ukiran dan ornamen yang menjadi daya tarik tersendiri.
Salah satu contoh rumah ini masih dapat ditemukan di kawasan Kota Seberang. Lokasinya berada tidak jauh dari Jembatan Gentala Arasy.
Rumah tersebut dahulu dihuni oleh seorang habib yang datang ke Jambi untuk menyebarkan agama Islam. Bangunannya kemudian sempat direnovasi oleh pemerintah setempat.
Meski begitu, karakter utama rumah tetap dipertahankan. Struktur panggung dan ukiran khasnya masih menjadi bagian dari bangunan tersebut.
Rumah Arab Melayu Jambi pun menunjukkan bahwa perkembangan budaya di Jambi tidak terlepas dari pengaruh berbagai kelompok masyarakat. Perpaduan tersebut kemudian terlihat pada bentuk arsitektur rumahnya.
Baboroh

Baboroh menjadi salah satu rumah tradisional Jambi yang punya karakter paling berbeda. Rumah ini merupakan hunian khas Suku Bajau yang dibangun di atas perairan.
Bentuk tersebut tentu tidak terlepas dari kehidupan masyarakat yang dekat dengan laut dan sungai. Karena berada di atas air, struktur bangunannya juga dibuat dengan material yang sesuai dengan lingkungan sekitar.
Material utama yang digunakan antara lain kayu dan daun nipah. Bagian lantainya menggunakan kayu nibung dan bambu.
Atapnya juga memiliki bentuk yang khas. Bagian tersebut dihiasi pola yang menyerupai layang-layang.
Di dalam Baboroh terdapat beberapa ruang dengan fungsi masing-masing, seperti:
- Ruang tamu.
- Ruang tidur.
- Para-para untuk menyimpan barang berharga.
- Dapur yang dibuat terpisah.
Dapur dibuat terpisah karena tidak hanya digunakan untuk memasak. Bagian ini juga dimanfaatkan untuk mengasap ikan dan mengeringkan kayu bakar.
Keberadaan Baboroh memperlihatkan bagaimana bentuk rumah bisa menyesuaikan kondisi lingkungan. Masyarakat yang hidup dekat perairan tentu membutuhkan hunian yang berbeda dari masyarakat yang tinggal di daratan.
Baca Juga: Mengenal Rumah Adat Joglo, Rumah Tradisional Jawa yang Penuh Filosofi
Jelajahi Bersama SatuSatu
Kalau kamu suka melihat bangunan tradisional dan warisan budaya Indonesia, kamu bisa menemukan pengalaman wisata serupa lewat SatuSatu.com
Salah satu pilihan yang menarik adalah Uluwatu Temple Kecak Fire Dance bisa jadi pilihan untuk menikmati pertunjukan budaya Bali. Kamu dapat menyaksikan tari Kecak dengan suasana Uluwatu yang menjadi salah satu pengalaman ikonik di Bali.
Pertanyaan Seputar Rumah Adat Jambi
Apa saja nama rumah adat Jambi?
Rumah adat Jambi dalam daftar ini terdiri dari Kajang Lako, Larik, Lumbung, Rumah Arab Melayu Jambi, dan Baboroh. Kelimanya memiliki bentuk dan fungsi yang berbeda.
Kenapa atap Kajang Lako disebut Gajah Mabuk?
Nama Gajah Mabuk berasal dari cerita rakyat tentang pembuat rumah yang sedang dimabuk cinta. Atapnya berbentuk melengkung seperti perahu dan menggunakan bahan ijuk.
Di mana bisa melihat rumah adat Jambi?
Rumah Kajang Lako bisa dilihat di Kampung Lamo, Rantau Panjang, Kabupaten Merangin. Replikanya juga ada di Anjungan Jambi, TMII, Jakarta. Rumah Arab Melayu Jambi dapat ditemukan di kawasan Kota Seberang.
SatuSatu Kini Hadir untuk Kebutuhan Bisnis Lewat SatuSatu B2B

Buat kamu yang bekerja di biro perjalanan, event organizer, HR perusahaan, atau komunitas, mengatur perjalanan dalam jumlah besar tentu butuh persiapan lebih.
Karena itu, SatuSatu kini juga hadir lewat SatuSatu B2B untuk membantu mitra pariwisata dan kebutuhan perjalanan grup atau korporasi dalam satu platform.
Ada beberapa fitur yang bisa membantu kebutuhan bisnis. Katalognya menyediakan ribuan pilihan atraksi, tur, dan aktivitas dengan ketersediaan yang terus diperbarui.
Selain itu, tersedia dasbor untuk mengelola pemesanan grup dan korporasi. Jadi, kebutuhan seperti outing kantor, gathering, hingga perjalanan perusahaan bisa dipantau dalam satu tempat.
Dari sisi bisnis, tersedia agent rate dengan harga khusus untuk mitra. Ada pula opsi pembayaran termin yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan administrasi perusahaan, termasuk saat proses pembayaran perlu mengikuti siklus invoice atau anggaran kantor.
Jadi, kalau kamu sering mengatur perjalanan atau aktivitas wisata untuk banyak orang, SatuSatu B2B bisa menjadi pilihan untuk mengelola kebutuhan tersebut dengan lebih rapi.