Lompat ke konten
Home » 10 Rumah Adat Papua dan Keunikannya

10 Rumah Adat Papua dan Keunikannya

Papua punya banyak rumah adat dengan bentuk dan fungsi yang berbeda-beda. Keberagamannya bisa dilihat dari rumah tradisional di pegunungan, pesisir, hingga wilayah hutan.

Setiap rumah dibangun dengan menyesuaikan kondisi alam dan kehidupan masyarakat setempat. Fungsinya juga tidak selalu sekadar menjadi tempat tinggal.

Ada yang digunakan sebagai tempat tinggal, tempat berkumpul, hingga ruang untuk belajar adat. Yuk, kenalan dengan 10 rumah adat Papua yang punya ciri khas masing-masing.

Honai

📍 Lembah Baliem dan pegunungan tengah Papua Pegunungan
👥 Suku Dani

Honai merupakan rumah adat suku Dani yang paling dikenal sebagai salah satu simbol budaya Papua. Bentuknya bundar dengan atap kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang.

Rumah ini biasanya hanya memiliki satu pintu dan tidak mempunyai jendela. Bentuknya dibuat relatif kecil agar suhu di dalam tetap hangat saat udara pegunungan terasa dingin.

Honai umumnya digunakan oleh laki-laki dewasa suku Dani. Rumah-rumah ini juga sering dibangun berkelompok dalam satu kawasan permukiman.

Baca Juga: Rumah Adat Bali: 7 Bagian Unik dan Fungsinya

Ebei

📍 Lembah Baliem, berdampingan dengan kelompok Honai
👥 Suku Dani

Ebei merupakan rumah yang diperuntukkan bagi perempuan dan anak-anak suku Dani. Bentuknya sama-sama bundar dan menggunakan bahan alami seperti Honai.

Di Ebei, anak perempuan bisa belajar berbagai keterampilan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah menganyam noken dan mengurus kebun.

Karena itu, Ebei tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal. Rumah ini juga memiliki peran dalam pendidikan informal perempuan muda dalam masyarakat Dani.

Wamai

📍 Lembah Baliem, berada dalam satu kompleks dengan Honai dan Ebei
👥 Suku Dani

Berbeda dari Honai dan Ebei, Wamai bukan rumah untuk manusia. Bangunan ini digunakan sebagai kandang ternak babi.

Nama Wamai berasal dari kata “wam” yang berarti babi. Bagi masyarakat Dani, babi memiliki nilai penting dalam kehidupan sosial dan upacara adat.

Adanya bangunan khusus untuk ternak menunjukkan pentingnya babi dalam kehidupan masyarakat Dani. Wamai menjadi bagian dari lingkungan permukiman tradisional mereka.

Hunila

📍 Lembah Baliem, biasanya berada di tengah kompleks beberapa Honai
👥 Suku Dani

Hunila berfungsi sebagai dapur bersama untuk beberapa rumah Honai dan Ebei dalam satu kampung. Bentuknya lebih memanjang dan luas dibandingkan Honai.

Di dalam Hunila terdapat tungku api yang digunakan untuk memasak makanan. Dapur bersama ini menunjukkan adanya aktivitas memasak dan berbagi makanan dalam kehidupan masyarakat Dani.

Kariwari

📍 Teluk Youtefa dan sekitar Danau Sentani, Jayapura
👥 Suku Tobati-Enggros

Kariwari merupakan rumah adat masyarakat Tobati-Enggros yang tinggal di kawasan Teluk Youtefa dan Danau Sentani. Bentuknya dikenal menyerupai limas dengan atap tinggi.

Bangunan ini memiliki pembagian ruang dengan fungsi yang berbeda. Ada ruang yang digunakan untuk pendidikan, pertemuan, hingga kegiatan yang berkaitan dengan kepercayaan.

Keunikan Kariwari terlihat dari bentuk dan pembagian ruangnya. Rumah ini juga mencerminkan nilai sosial serta pendidikan dalam kehidupan masyarakat setempat.

Rumsram

📍 Wilayah pesisir Biak Numfor, pantai utara Papua
👥 Masyarakat Biak Numfor

Rumsram merupakan rumah adat masyarakat Biak Numfor yang hidup di wilayah pesisir utara Papua. Bentuknya berupa rumah panggung dengan atap yang menyerupai perahu terbalik.

Rumsram berkaitan dengan kehidupan laki-laki muda dalam masyarakat Biak Numfor. Di rumah ini, mereka mempelajari berbagai keterampilan seperti memahat dan membuat perahu.

Bentuk atapnya juga mencerminkan kehidupan masyarakat Biak yang dekat dengan laut. Karena itu, Rumsram menjadi salah satu rumah adat yang menarik untuk dikenali.

Jew

📍 Kampung-kampung suku Asmat, Papua Selatan
👥 Suku Asmat

Jew atau rumah bujang merupakan salah satu rumah adat yang dikenal dalam masyarakat Asmat. Bangunan ini berukuran besar dan memiliki fungsi sosial yang penting.

Jew digunakan sebagai tempat berkumpul dan belajar bagi laki-laki yang belum menikah. Di dalamnya, mereka dapat belajar mengukir, menari, dan bermusik dari anggota masyarakat yang lebih senior.

Rumah ini juga memiliki kaitan erat dengan kegiatan musyawarah adat. Karena itu, Jew bukan sekadar bangunan tempat berkumpul, tetapi juga bagian dari kehidupan budaya Asmat.

Rumah Kaki Seribu

📍 Kabupaten Pegunungan Arfak, Manokwari, Papua Barat
👥 Suku Arfak

Rumah Kaki Seribu atau Mod Aki Aksa merupakan rumah adat masyarakat Arfak. Namanya berasal dari banyaknya tiang penyangga kayu yang membuat bangunan ini terlihat seperti memiliki banyak kaki.

Rumah ini berbentuk panggung dan menggunakan banyak tiang sebagai penyangga. Bentuk tersebut menjadi salah satu ciri yang paling mudah dikenali.

Pada 2016, Rumah Kaki Seribu ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Keunikannya menunjukkan bagaimana arsitektur tradisional menyesuaikan kondisi lingkungan pegunungan.

Rumah Pohon

📍 Wilayah pedalaman suku Korowai, Papua
👥 Suku Korowai

Rumah Pohon merupakan rumah tradisional masyarakat Korowai yang dibangun di atas pohon. Ketinggiannya bisa mencapai puluhan meter dari permukaan tanah.

Rumah ini dibangun dengan menyesuaikan kondisi hutan tropis di wilayah tempat masyarakat Korowai tinggal. Letaknya yang tinggi juga berkaitan dengan perlindungan dari hewan dan gangguan tertentu menurut kepercayaan setempat.

Keunikan Rumah Pohon terletak pada teknik pembangunannya. Rumah ini menunjukkan cara masyarakat menyesuaikan tempat tinggal dengan lingkungan hutan yang lebat.

Rumah Gotad

📍 Kabupaten Merauke, Papua Selatan
👥 Suku Marind

Rumah Gotad merupakan rumah bujang masyarakat Marind di Merauke. Rumah ini digunakan oleh laki-laki sejak remaja hingga mereka menikah.

Gotad berbentuk panggung dengan atap limas atau kerucut tumpul. Bagian atapnya menggunakan daun nipah yang disusun berlapis.

Di sekitar Gotad biasanya terdapat rumah keluarga yang disebut Oram Aha. Rumah tersebut digunakan oleh perempuan.

Gotad juga memiliki fungsi dalam proses pembelajaran dan inisiasi pemuda Marind. Rumah ini menjadi bagian dari proses seseorang sebelum dianggap dewasa dalam adat.

Rumah Adat Papua yang Punya Ciri Khas

Rumah Adat Papua

Dari 10 rumah adat di atas, terlihat bahwa setiap bangunan punya bentuk dan fungsi yang berbeda. Ada Honai yang identik dengan masyarakat Dani, Jew yang berkaitan dengan kehidupan adat Asmat, hingga Rumah Pohon yang berdiri tinggi di tengah hutan.

Perbedaan tersebut tidak lepas dari lingkungan tempat masyarakat tinggal. Kondisi alam, kebutuhan sehari-hari, serta nilai adat ikut memengaruhi bentuk rumah tradisional Papua.

Baca Juga: Rumah Adat Betawi, Warisan Budaya Khas DKI Jakarta

Jelajahi Indonesia Bersama SatuSatu

Kalau ingin melihat beragam bentuk rumah tradisional Indonesia dalam satu tempat, kamu juga bisa berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta. 

Di SatuSatu.com tersedia tiket masuk TMII yang bisa dipesan secara online, sehingga kamu bisa sekalian melihat paviliun daerah dan berbagai atraksi budaya Indonesia.

Pertanyaan Seputar Rumah Adat Papua

Rumah adat Papua yang paling terkenal apa?

Honai merupakan salah satu rumah adat Papua yang paling dikenal. Rumah berbentuk bundar dengan atap jerami ini identik dengan masyarakat Dani di kawasan pegunungan tengah Papua.

Apa fungsi rumah adat Papua selain tempat tinggal?

Fungsinya berbeda-beda sesuai masyarakatnya. Ada yang digunakan sebagai tempat berkumpul, belajar adat, bermusyawarah, hingga menjalankan kegiatan sosial dan budaya.

Kenapa rumah adat Papua bentuknya berbeda-beda?

Bentuk rumah adat Papua menyesuaikan lingkungan dan kebutuhan masyarakat setempat. Kondisi pegunungan, pesisir, dan hutan membuat setiap daerah memiliki bentuk serta fungsi rumah tradisional yang berbeda.