Lompat ke konten
Home » 10 Nama Baju Adat Maluku dan Makna Filosofisnya

10 Nama Baju Adat Maluku dan Makna Filosofisnya

Baju adat Maluku punya banyak rupa, mulai dari Baju Cele sampai busana adat Pulau Buru. Setiap baju menyimpan makna filosofis lewat warna, motif, dan aksesorinya.

Pakaian adat Maluku juga menyerap pengaruh budaya Eropa, Tiongkok, dan Arab, jadi ragamnya makin kaya. SatuSatu merangkum 10 di antaranya, lengkap dengan asal dan maknanya.

Baju Cele

📍 Asal daerah: Maluku
🧵 Ciri khas: motif garis geometris atau kotak kecil, dominan merah
🎉 Dipakai untuk: pelantikan raja, pesta negeri, cuci negeri, panas pela, dan pernikahan
✨ Makna: keceriaan dan kecekatan

Baju Cele adalah baju adat Maluku yang paling dikenal. Bentuknya seperti baju kurung yang terbelah sedikit di bagian tengah depan.

Perempuan memadukannya dengan sarung salele dan lenso, yaitu sapu tangan di pundak. Laki-laki mengenakannya seperti jas dengan kemeja dan celana panjang formal.

Naik Baileo

📍 Asal daerah: Maluku
🧵 Ciri khas: bagian atas hitam, kain cele merah, lenso merah polos
🎉 Dipakai untuk: upacara Naik Baileo dan Cuci Negeri
✨ Makna: kesakralan, kewibawaan, dan keberanian

Naik Baileo mirip Baju Cele, tetapi bagian atasnya berwarna hitam. Baileo sendiri adalah rumah adat Maluku.

Warna hitam melambangkan kesakralan dan kewibawaan. Kain cele merah di bawahnya menandakan keberanian yang bertanggung jawab, sedangkan lenso merah polos di pundak menjadi lenso adat.

Baca juga: 10 Baju Adat Jawa Tengah dan Keunikan Setiap Busananya

Kebaya Dansa

📍 Asal daerah: Maluku
🧵 Ciri khas: satin atau beludru merah, leher bundar tanpa kancing, renda keemasan
🎉 Dipakai untuk: pesta rakyat
✨ Makna: penanda masyarakat strata atas pada masa penjajahan

Kebaya Dansa berbentuk seperti kemeja berleher bundar dan berlengan panjang. Bahannya satin atau beludru merah dengan renda keemasan di pinggirannya.

Laki-laki mengenakannya saat pesta rakyat, sedangkan perempuan memakai rok. Pada masa penjajahan, pakaian ini identik dengan masyarakat strata atas.

Kabasaran dari Babar

📍 Asal daerah: Pulau Masela, Maluku Barat Daya
🧵 Ciri khas: tenun kapas, kain basta tanpa jahitan
🎉 Dipakai untuk: pakaian raja
✨ Makna: kewibawaan dan luasnya wilayah

Kabasaran dari Babar dikenal juga sebagai Pakaian Raja. Laki-laki memakai kain basta, tenun kapas tua sepanjang 10–15 meter yang tidak dijahit, melainkan dibelit seperti sari.

Perempuan mengenakan kebaya hitam dan kain tenun merah. Di kepala laki-laki ada mas bulan purnama (Piina) sebagai lambang mahkota raja.

Perempuan memakai mas bulan sabit di dada (Marna Whura) yang melambangkan luasnya wilayah. Mas telinganya yang bergerigi melambangkan kekuatan dan kewibawaan.

Baju Mustiza

📍 Asal daerah: Ambon, Maluku
🧵 Ciri khas: brokat putih berlengan panjang dengan renda kecil
🎉 Dipakai untuk: pernikahan adat
✨ Makna: akulturasi budaya Ambon dan Portugis

Baju Mustiza, atau baju basumpa, adalah baju adat Maluku untuk pengantin yang kental dengan pengaruh Portugis. Namanya berasal dari sebutan warga keturunan Portugis, yaitu Mustiza atau Mestiezen.

Modelnya mirip Baju Cele dengan leher bundar yang terbelah. Band tangannya berhias manik emas, dan lenso pinggang terselip di sisi kiri.

Nona Rok

📍 Asal daerah: Maluku Tenggara
🧵 Ciri khas: kebaya putih dari brokat halus dengan motif bunga kecil merah atau oranye
🎉 Dipakai untuk: pesta pernikahan dan acara kenegaraan
✨ Makna: penanda kalangan terpelajar dan pemerintahan

Nona Rok berbentuk kebaya putih lengan panjang dari brokat halus. Lipit-lipit kecil menghiasi motif bunga merah atau oranye di kainnya.

Pengikat pinggangnya bernama pending dan terbuat dari perak. Biasanya pakaian ini dikenakan pendeta, guru, orang terpelajar, serta keluarga golongan menengah dan pemerintahan.

Baju Adat Tanimbar

📍 Asal daerah: Kepulauan Tanimbar
🧵 Ciri khas: tenun ikat tais dengan sekitar 47 variasi motif
🎉 Dipakai untuk: acara adat
✨ Makna: keseimbangan alam, identitas budaya, dan nilai sosial

Baju adat Tanimbar terkenal lewat kain tenun ikatnya yang disebut tais. Laki-laki mengenakan teik, yaitu cawat atau ikat pinggang tenun, sedangkan perempuan memakai tais sebagai sarung.

Presiden Joko Widodo pernah mengenakan busana ini pada Sidang Tahunan MPR 2023. Selain itu, kain tenunnya punya motif yang sarat makna.

Motif anggrek melambangkan kecantikan, keagungan, dan keuletan. Motif sair berbentuk bendera dan berarti kemenangan.

Baju Adat Kei

📍 Asal daerah: Kepulauan Kei, Maluku Tenggara
🧵 Ciri khas: ikat kepala rikrikat dan kebaya yang mirip pakaian adat Bali
🎉 Dipakai untuk: acara adat, termasuk perkawinan adat
✨ Makna: penghargaan kepada leluhur Nen Dit Sakmas

Baju adat Kei justru mirip pakaian adat Bali. Ikat kepalanya bernama rikrikat dan bentuknya menyerupai udeng, sedangkan perempuan mengenakan kebaya.

Menurut Dinas Pariwisata Maluku Tenggara, kemiripan ini bentuk penghargaan kepada Nen Dit Sakmas, leluhur Kei berdarah Bali yang mencetuskan hukum adat. Sebelum Belanda datang, pakaian adat Kei masih berupa cawat.

Kebaya Manampal

📍 Asal daerah: Desa Wasi, Pulau Buru
🧵 Ciri khas: kebaya katun putih berlengan sampai siku dari potongan kain yang disambung
🎉 Dipakai untuk: upacara adat, pernikahan, dan khitanan
✨ Makna: tolong-menolong dan kesiapan bekerja

Kebaya Manampal adalah baju adat Maluku dari masyarakat Desa Wasi di dataran tinggi Pulau Buru. Kata menampal berarti menyambung kain, sehingga kebaya ini melambangkan tolong-menolong dan kerja sama.

Lengan yang hanya sampai siku menandakan perempuan Wasi siap bekerja untuk keluarga. Konde berhias haspel berkaki empat melambangkan empat arah mata angin dan kesiapan menjaga rumah tangga.

Selain itu, warga Wasi tidak boleh membeli kebaya jadi dari toko.

Busana Adat Kayeli

📍 Asal daerah: Desa Kayeli, Pulau Buru
🧵 Ciri khas: kebaya atau baju panjang putih, selendang, dan ikat kepala bercorak batik
🎉 Dipakai untuk: upacara adat, hari besar, pernikahan, dan doa bersama
✨ Makna: kesucian, kesetaraan, dan tanggung jawab

Busana adat Kayeli didominasi warna putih yang melambangkan kesucian. Perempuan memakai kebaya atau baju panjang dengan selendang di kepala, sedangkan laki-laki memakai ikat kepala bercorak batik.

Selendang menjadi alat perempuan untuk menjaga kehormatan keluarga. Ikat kepala laki-laki melambangkan tanggung jawab terhadap keluarga.

Saat ritual, warga berkaki telanjang sebagai tanda kedekatan dengan tanah dan kesetaraan.

Baca juga: 10 Nama Baju Adat Aceh dan Makna Filosofisnya

Jelajahi Budaya Nusantara Bersama SatuSatu

Baju Adat Maluku

Ingin merasakan langsung suasana adat Nusantara? Kamu bisa cek pilihan pengalamannya di SatuSatu.com lengkap dengan pembayaran lokal seperti BCA, Mandiri, OVO, DANA, dan kartu kredit.

Penglipuran Village Tur Sehari di Bali mengajakmu menjelajahi desa adat yang terkenal bersih sambil berfoto dengan pakaian tradisional Bali. Cocok untuk pencinta budaya, apalagi baju adat Kei ternyata mirip pakaian adat Bali.

Kalau suka tradisi dalam bentuk pertunjukan, tonton Kecak Fire Dance Uluwatu. Tari api ini pas untuk kamu yang ingin menyaksikan tradisi Bali secara langsung.

Pertanyaan tentang Baju Adat Maluku

Apa saja baju adat Maluku yang paling terkenal?
Baju Cele paling dikenal, disusul Baju Mustiza untuk pernikahan dan busana adat Tanimbar.

Apa makna warna merah dan hitam pada baju adat Maluku?
Merah melambangkan keberanian dan keceriaan, sedangkan hitam melambangkan kesakralan dan kewibawaan.

Apakah baju adat Maluku hanya dipakai saat upacara adat?
Umumnya, baju adat Maluku dipakai saat upacara adat dan pernikahan, bukan untuk sehari-hari.