Lompat ke konten
Home » Sejarah Menara Kudus dan Keunikan Arsitekturnya

Sejarah Menara Kudus dan Keunikan Arsitekturnya

Sejarah Menara Kudus dimulai pada 1549 Masehi, saat Sunan Kudus mendirikan Masjid Al-Aqsa di Kota Kudus, Jawa Tengah. Menaranya berbentuk seperti candi bata merah, sehingga jadi ikon kota dan salah satu masjid tertua di Indonesia.

Perpaduan gaya Hindu, Buddha, Jawa, dan Islam membuat bangunannya unik. Di artikel ini kamu akan tahu kisah pendiriannya, detail arsitekturnya, dan cara berkunjung ke sana.

Sejarah Menara Kudus dan Pendirinya

Menara Kudus

Didirikan Sunan Kudus pada 1549

Masjid ini didirikan oleh Sunan Kudus, nama aslinya Ja’far Shadiq, salah satu anggota Wali Songo. Tahun pendiriannya tercatat pada inskripsi di mihrab: 956 Hijriah atau 1549 Masehi.

Nama resminya Masjid Al-Aqsa, tapi orang lebih mengenalnya sebagai Masjid Menara Kudus atau Al-Manar. Masjid ini berdiri setelah Masjid Demak yang tercatat dibangun pada 1468.

Cerita setempat menyebut batu pertamanya berasal dari Baitul Maqdis di Palestina. Cerita ini diwariskan turun-temurun dan belum bisa dipastikan.

Baca Juga: Masjid Agung Demak: Masjid Bersejarah Peninggalan Wali Songo

Dakwah lewat Budaya Lokal

Sunan Kudus berdakwah dengan pendekatan budaya setempat. Karena itu, bentuk bangunannya tidak terasa asing bagi warga yang saat itu masih memeluk Hindu dan Buddha.

Sebagian sumber menyebut menaranya semula bangunan penanda milik komunitas Buddha setempat. Sunan Kudus lalu memanfaatkannya untuk berdakwah, tapi versi ini belum bisa dipastikan.

Renovasi dan Kondisi Terkini

Bangunan masjid direnovasi sekitar 1918 sehingga lebih besar dari bentuk aslinya. Menurut keterangan yang dikutip media, menaranya tidak pernah dirombak dan tetap utuh sejak awal.

Keunikan Arsitektur Menara Kudus

Menara Berbentuk Candi

Menara ini setinggi 18 meter dengan dasar berukuran 10 x 10 meter. Bentuknya sering disamakan dengan Candi Jago di Jawa Timur.

Bagiannya terdiri atas kaki, badan, dan puncak. Bata merahnya disusun tanpa semen, memakai perekat tradisional dari bahan alami.

Di dalamnya ada tangga kayu jati menuju puncak. Puncaknya berupa ruangan kayu dengan empat saka guru dan atap tajug bertingkat dua.

Di ruangan itu tergantung bedug yang dulu dipakai bersama azan. Pada salah satu tiangnya tertulis inskripsi aksara Jawa: “Gapura Rusak Ewahing Jagad”.

32 Piring Keramik di Dinding Menara

Dinding menara dihias 32 piring keramik. Dua puluh piring berwarna biru bergambar masjid, manusia, unta, dan pohon kurma, sedangkan 12 lainnya berwarna merah putih dengan motif bunga.

Menurut sebuah kajian, keramik ini menunjukkan hubungan dagang dengan Tiongkok dan Vietnam. Jadi, menara ini juga menyimpan jejak perdagangan masa lalu.

Gapura dan Delapan Pancuran Wudu

Di serambi masjid berdiri gapura bergaya candi yang warga sebut lawang kembar. Bentuknya mengingatkan pada gerbang candi Hindu-Jawa.

Kompleks masjid juga punya delapan pancuran wudu, masing-masing dengan arca di atasnya. Konon jumlah ini mengadaptasi Asta Sanghika Marga, atau Delapan Jalan Kebenaran dalam ajaran Buddha.

Bangunan Utama Masjid

Masjid utamanya beratap tumpang tiga khas masjid Jawa. Ada lima pintu di sisi kiri dan kanan, serta delapan tiang besar dari kayu jati di dalamnya.

Warisan Toleransi Sunan Kudus

Sunan Kudus melarang pengikutnya menyembelih sapi karena hewan itu dimuliakan umat Hindu. Hingga kini, banyak warga Kudus memilih kerbau saat Idul Adha.

Tradisi lain yang masih hidup adalah Buka Luwur, yaitu penggantian kain kelambu makam Sunan Kudus. Acara ini berkaitan dengan pengajian 10 Muharram dan biasanya ramai peziarah.

Lokasi, Jam Buka, dan Tips Berkunjung ke Menara Kudus

Masjid Menara Kudus berada di Jalan Menara No. 25B, Kauman, Kota Kudus, sekitar 1,2 kilometer dari Alun-alun Kudus. Makam Sunan Kudus ada di kompleks yang sama, tepat di belakang masjid.

Masjid buka 24 jam, sedangkan ziarah makam biasanya mulai setelah subuh sampai sekitar pukul 24.00 WIB. 

Masuk area makam tidak dipungut biaya, kamu cukup berinfak seikhlasnya. Informasi ini per 24 Oktober 2026, jadi tetap cek kondisi di lokasi.

Beberapa tips agar kunjunganmu nyaman:

  • Berpakaian sopan dan menutup aurat karena ini area ibadah dan ziarah.
  • Hindari momen ramai seperti menjelang Ramadan dan Buka Luwur kalau ingin suasana lebih tenang.
  • Siapkan uang tunai untuk parkir motor dan jajan, karena ada kios oleh-oleh dan warung makan di sekitar masjid.
  • Jaga ketenangan, sebab masjid dan makam ini masih aktif dipakai beribadah.

Jelajahi Jawa Tengah Bersama SatuSatu

Habis dari Kudus, mau lanjut menjelajah candi dan wisata lain di Jawa Tengah? 

Kamu bisa pesan lewat SatuSatu.com tersedia berbagai metode pembayaran lokal seperti BCA, Mandiri, OVO, DANA, dan kartu kredit.

Kalau tertarik dengan jejak Hindu-Buddha seperti yang terlihat pada menara Kudus, coba Borobudur & Prambanan Temple Tur Sehari. Tur ini membawamu ke dua candi besar dalam satu hari, dengan harga mulai dari USD 64,41.

Kalau pergi bersama keluarga, Tiket Saloka Theme Park di Semarang bisa jadi penutup perjalanan. Taman hiburan ini punya lima zona bertema dengan 25 atraksi, dan tiketnya USD 7,28 di hari kerja atau USD 8,68 di akhir pekan.

Baca Juga: Menara Saidah, Gedung Kosong yang Ikonik di Jakarta

Pertanyaan Terkait Sejarah Menara Kudus

Siapa yang membangun Menara Kudus?
Menara Kudus dibangun oleh Sunan Kudus, anggota Wali Songo, pada 1549 Masehi. Menara ini didirikan bersama Masjid Al-Aqsa sebagai bagian dari dakwahnya di Kudus.

Apakah Menara Kudus itu candi?
Bukan, Menara Kudus merupakan menara masjid yang bentuknya menyerupai candi. Arsitektur ini mencerminkan pendekatan dakwah Sunan Kudus melalui budaya lokal.

Berapa tinggi Menara Kudus?
Menara Kudus memiliki tinggi sekitar 18 meter dengan dasar berukuran 10 x 10 meter. Bangunannya terbuat dari bata merah dan dihiasi 32 piring keramik.