Rumah adat Jawa Barat tidak hanya punya bentuk yang unik. Setiap bentuknya juga punya cerita dan filosofi yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Sunda.
Sebagian besar rumah tradisional Sunda menggunakan bahan alami. Mulai dari bambu, kayu, batu, hingga ijuk.
Umumnya, rumah ini berbentuk rumah panggung dengan atap pelana. Namun, bentuk atapnya bisa berbeda-beda dan punya nama masing-masing.
Ada tujuh rumah adat Jawa Barat yang cukup dikenal. Di antaranya Julang Ngapak, Tagog Anjing, Jolopong, Capit Gunting, Jubleg Nangkub, Badak Heuay, dan Parahu Kumureb.
Julang Ngapak

Julang Ngapak menjadi salah satu rumah adat Jawa Barat yang paling ikonik. Namanya berarti burung yang sedang mengepakkan sayap.
Bentuk atapnya melebar ke samping. Sekilas, bentuk ini memang terlihat seperti sayap burung yang sedang terbuka.
Atap Julang Ngapak terdiri dari empat bidang. Dua bidangnya membentuk bagian yang lebih runcing, sedangkan dua lainnya terlihat lebih landai.
Ada juga hiasan pada bagian bubungan atap. Hiasan ini dikenal sebagai capit gunting atau capit hurang.
Selain menjadi hiasan, bagian tersebut punya fungsi praktis. Salah satunya membantu mencegah air hujan masuk melalui celah pertemuan atap.
Rumah Julang Ngapak bisa ditemukan di beberapa wilayah Jawa Barat. Contohnya Garut dan Kuningan.
Rumah dengan bentuk serupa juga bisa dijumpai di kawasan kampung adat. Salah satunya Kampung Naga dan Kampung Dukuh.
Menariknya, konsep Julang Ngapak juga pernah diterapkan pada bangunan modern. Salah satunya Aula Barat dan Aula Timur Institut Teknologi Bandung (ITB).
Baca Juga: 5 Jenis Rumah Adat Aceh dan Keunikannya
Tagog Anjing
Sesuai namanya, Tagog Anjing berarti anjing yang sedang duduk. Nama ini berasal dari bentuk atapnya yang dianggap menyerupai posisi anjing saat duduk.
Bagian depan atapnya dibuat lebih tinggi. Sementara itu, bagian belakangnya terlihat lebih rendah.
Rumah ini biasanya berbentuk persegi panjang. Di bagian depan terdapat teras tambahan yang disebut sorondoy.
Sorondoy berfungsi melindungi bagian depan rumah. Teras ini bisa membantu mengurangi paparan panas matahari dan air hujan.
Berbeda dari rumah panggung Sunda pada umumnya, bagian bawah Tagog Anjing tidak selalu disangga tiang. Bentuknya pun cukup sederhana dan mengutamakan fungsi.
Rumah adat ini banyak ditemukan di Kabupaten Garut. Desainnya juga dianggap sesuai dengan kondisi lingkungan pegunungan.
Jolopong
Jolopong punya bentuk yang cukup sederhana. Atapnya berbentuk pelana panjang dengan dua bidang atap.
Kedua bidang atap tersebut bertemu pada bagian jalur suhunan di tengah bangunan. Bentuknya terlihat lurus tanpa banyak lekukan atau ornamen rumit.
Nama Jolopong sendiri menggambarkan bentuk yang tegak lurus atau terkulai. Karena bentuknya sederhana, rumah ini cukup mudah dikenali.
Salah satu hal menarik dari Jolopong ada pada bagian terasnya. Teras rumah biasanya dibiarkan kosong tanpa banyak perabot.
Ketika ada tamu datang, pemilik rumah bisa menggelar tikar untuk tempat duduk. Kebiasaan ini mencerminkan kesederhanaan dan suasana akrab dalam kehidupan masyarakat Sunda.
Jolopong juga termasuk rumah panggung. Bagian kolongnya berada sekitar 40–50 cm dari permukaan tanah.
Rumah dengan bentuk seperti ini masih bisa ditemukan di beberapa wilayah. Salah satunya di Garut.
Capit Gunting
Capit Gunting punya nama yang cukup mudah ditebak dari bentuknya. Hiasan pada bagian atapnya menyerupai huruf X atau bentuk gunting.
Ornamen tersebut berada di bagian ujung pertemuan bidang atap. Capit Gunting juga dikenal dengan sebutan capit hurang.
Bentuk ini tidak hanya berfungsi sebagai hiasan. Ada juga fungsi praktis yang berkaitan dengan perlindungan rumah dari air hujan.
Capit Gunting membantu mengurangi kemungkinan air masuk melalui celah pertemuan atap. Karena itu, elemen ini punya fungsi sekaligus nilai estetika.
Menariknya, Capit Gunting juga bisa ditemukan pada rumah adat Sunda lainnya. Salah satunya Julang Ngapak.
Karena sering digunakan sebagai bagian dari desain atap, Capit Gunting juga menjadi salah satu elemen yang memperkuat karakter arsitektur tradisional Sunda.
Jubleg Nangkub
Jubleg Nangkub punya bentuk atap yang cukup khas. Bentuknya dianggap menyerupai jubleg atau lesung tradisional yang dibalik.
Jubleg merupakan alat yang dulu digunakan untuk menumbuk padi. Sementara itu, Nangkub berarti tertelungkup atau terbalik.
Bentuk atapnya terlihat sederhana. Namun, desain tersebut tetap memberikan perlindungan dari panas dan hujan.
Rumah ini juga punya kaitan erat dengan kehidupan masyarakat agraris. Hal tersebut terlihat dari penggunaan istilah yang berasal dari aktivitas pertanian tradisional.
Jubleg Nangkub sering disandingkan dengan Parahu Kumureb. Keduanya memang punya bentuk atap yang sekilas mirip. Meski begitu, nama dan filosofi di balik keduanya berbeda.
Badak Heuay
Badak Heuay berarti badak yang sedang menguap. Nama ini berasal dari bentuk atapnya yang dianggap menyerupai mulut badak yang sedang terbuka.
Rumah adat ini dahulu banyak ditemukan di wilayah Sukabumi. Kayu menjadi salah satu bahan utama yang digunakan dalam pembangunannya.
Ada hal menarik dari bagian dalam rumah Badak Heuay. Rumah ini tidak banyak menggunakan kursi sebagai tempat duduk.
Sebagai gantinya, tikar digunakan sebagai alas untuk duduk. Kebiasaan tersebut menunjukkan kesederhanaan dalam kehidupan sehari-hari.
Konsep tersebut juga berkaitan dengan filosofi masyarakat Sunda. Salah satunya adalah hidup secara sederhana dan tidak berlebihan dalam memiliki barang.
Parahu Kumureb
Parahu Kumureb memiliki bentuk atap yang menyerupai perahu terbalik. Dari sinilah nama Parahu Kumureb berasal.
Bentuk atapnya terlihat melengkung. Hal ini membuat tampilannya cukup berbeda dari beberapa rumah adat Sunda lainnya.
Nama tersebut juga menggambarkan kedekatan masyarakat Sunda dengan lingkungan di sekitarnya. Termasuk kehidupan yang berkaitan dengan sungai dan pertanian pada masa lalu.
Rumah panggung Sunda juga punya filosofi tersendiri. Posisi rumah yang berada di atas kolong menggambarkan manusia yang berada di antara dunia atas dan dunia bawah.
Rumah tidak langsung menempel di tanah. Namun, posisinya juga tidak terlalu tinggi sehingga tetap dekat dengan lingkungan sekitarnya.
Baca Juga: 10 Rumah Adat Papua dan Keunikannya
Jelajahi Jawa Barat Bersama SatuSatu
Kalau kamu lagi merencanakan liburan ke Jawa Barat sambil mengenal lebih dekat budaya Sunda, kamu bisa langsung cek SatuSatu.com
Salah satu pilihan di Bandung adalah Dataran Tinggi Nimo di Pangalengan. Destinasi alam pegunungan ini cocok buat kamu yang ingin menikmati udara sejuk dan pemandangan alam khas Jawa Barat.
Kalau kamu bepergian bersama keluarga dan anak-anak, ada juga Tiket Masuk Dago Dreampark di Lembang. Taman rekreasi ini punya berbagai spot foto dan wahana yang bisa dinikmati bersama keluarga.
Pertanyaan Seputar Rumah Adat Jawa Barat
Apa rumah adat Jawa Barat yang paling terkenal?
Julang Ngapak menjadi salah satu rumah adat Jawa Barat yang paling dikenal, dengan bentuk atap menyerupai burung yang sedang mengepakkan sayap.
Di mana rumah adat Jawa Barat masih bisa ditemukan?
Rumah adat Jawa Barat masih dapat ditemukan di sejumlah kampung adat dan wilayah tradisional, seperti Kampung Naga, Kampung Dukuh, Garut, Kuningan, dan Sukabumi.
Apa fungsi Capit Gunting pada rumah adat Sunda?
Capit Gunting berfungsi sebagai ornamen sekaligus membantu mencegah air hujan masuk melalui celah pertemuan atap. Bentuknya juga memperkuat karakter rumah tradisional Sunda.